Sabtu, 21 Desember 2013 0 comments

Happy mother day!

Halo, Mama.
Mungkin Mama tidak akan membaca tulisanku yang kumuat disini. Mama bukan remaja yang luwes akan dunia teknologi. Bagimu, memahami cara mengirim voice note melalui BBM saja butuh waktu yang sangat lama :p
Tapi, begitulah Mama. Keluguanmu akan gemerlap teknologi zaman sekaranglah yang menjadi salah satu alasanku untuk mencairkan suasana ketika didekatmu.
Mama, aku kagum sekali akan Mama. Mama bukanlah wanita sempurna, bukan juga orang yang luput dari kesalahan, tetapi Mama kuat. Mama jauh lebih kuat dari kebanyakan wanita-wanita yang kulihat diluar sana.
Kehidupan yang Mama jalani tidak pernah mudah. Mama dihujani cobaan demi cobaan sejak muda. Cobaan yang, apabila itu aku yang mengalaminya, mungkin aku akan berpikir untuk mengakhiri saja hidup di dunia ini.
Tetapi Mama bertahan.
Kenapa?
Karna aku dan saudaraku. Mama bertahan karna kami, karna Mama ingin melihat kami tumbuh dewasa, karna Mama tak begitu saja percaya pada tangan orang lain untuk menghidupkan kita. Karna Mama sadar, hanya Mama lah satu-satunya ibu yang kami miliki di dunia.
Mama bangkit dari keterpurukan itu. Berusaha melupakan segala kesakitan, dan ikut tersenyum bersama senyum lugu kami yang belum tahu apa-apa saat itu.

Setelah aku cukup dewasa Ma, setelah umurku cukup matang untuk mengetahui segala ceritamu, Mama menceritakan segalanya padaku.
Cerita yang membuatku menangis hebat, menyadari betapa menyedihkannya kisah yang Mama alami di masa lalu.
Tetapi apakah Mama menangis ketika menceritakan itu dihadapanku?
Mama menceritakan segalanya dengan lantang, tanpa terlihat sedih.
Masih jernih, Ma, dalam ingatanku, bahwa hanya ada satu hal yang membuat Meneteskan air mata. Mama sesenggukan ketika menceritakan kembali hal yang menimpaku pada saat aku TK.
Sekolahku merayakan ulang tahunku dan teman-teman yang juga berulang tahun di bulan Oktober. Semua teman-temanku ditemani oleh orang tuanya, sementara aku tidak. Tentu saja ada alasannya.
Mama menangis dan memelukku, Mama bilang tidak ada hal yang lebih menyayat hati Mama dibanding mengingat pada saat aku berulang tahun sendirian di TK.
Ma, aku bahkan tidak mengingat lagi momen itu. Kenapa Mama menangis? Bukankah masalah yang Mama alami jauh lebih berat daripada itu?
Sebegitu berartinyakah kebahagiaanku di mata Mama?

Ma, hidup yang kita jalani selama ini mungkin tidak bisa dibilang mulus-mulus saja. Banyak suka duka yang kualami bersama Mama. Banyak tawa dan airmata yang menemani saat saat kita bersama. Banyak mimpi yang kucurahkan ke hadapan mama.
"Nanti pokoknya cici mau bikinin Mama rumah yang buesaaaar! Warnanya coklat keemasan kayak warna kesukaan Mama."
"Nanti kalo udah punya uang banyak, cici mau naik haji sama Mama. Kita liat ka'bah bareng ya, Ma!"
"Nanti calon suami cici harus bisa dekat sama Mama dulu. Kalo dia gak hormat sama Mama, bye!"

Mama adalah single fighter. Mama adalah malaikat tanpa sayap yang membuatku menjadi seperti sekarang.
Mama memberiku pelajaran yang guru manapun tidak akan pernah bisa beri.

Pelajaran itu bernama Cinta. Cinta Mama yang tidak terbendung terhadapku menjadi penguatku disaat aku lemah, obat bagiku disaat sakit, dan pencerahku saat aku dirundung kegelapan.

Ma, saat ini aku belum bisa memberikan apapun untukmu. Aku masih anak ingusan yang kadang tidak memikirkan perasaanmu. Aku masih sering sekali mengecewakanmu. Bahkan aku masih sering sekali hanya memikirkan perasaanku.

Tetapi Ma, ketahuilah bahwa anakmu ini menyimpan rasa terima kasih yang sangat dalam atas cinta berlimpah yang tak pernah henti kau hujankan padanya.
Ketahuilah bahwa, sekalipun aku tanpa sadar sering mengecewakanmu, kebahagiaanmu adalah alasan nomor satuku untuk tetap berdiri tegap menghadapi dunia. Aku ingin membahagiakanmu, Ma. Aku sangat ingin membahagiakanmu.
Aku ingin melihat senyum indah Mama karna usaha yang kukerahkan.
Aku ingin membangun rumah berisi kebahagiaan yang mengelilingi kita.
Aku sayang Mama.
Selamat hari ibu, Ma :)

Senin, 16 Desember 2013 0 comments

Ma famille!

Raise your hand if you agree that home is where all the emotion came from.
For me, it totally is. Home isn't only a building. It is a place filled with a lovable group of people who love each other, called family.
For me, home is wherever you feel belong to. Where the tears shed, where the stories made, where the laughs echoed, and where the love shared.
I think I've found my own little home in this huge foreign town. When I decided to study in Jakarta, none of my thought would go to the extent of creating a family here.
Turned out I did.
I met each of them in an unexpected time.
I met Rani Aqella in my first class, thinking that she would never be in my circle.
I met Leliana Anggraini in my first English Club meeting, with a simple hello that I never think will be the starting point of all.
I met Pearly Adinegoro at the first day of my campus orientation, had this strong feeling that I wouldnt be her best friend, so did she I guess.
I met Nadia Bella in my dormitory, seeing a big grin all over her face and in all of a sudden got comfortable with hef. But again, no foresee of a great friendship on the next road.
And I met this little cute girl, Khairiah Ulfa, in my campus, someone that I surely thought of someone else that I know, called her with that person's name and ended up nervously apologizing for calling her wrong.

Well. We all then ended up here in this house. Living together with our very own business. We share a kind of strange relationship in between.

We aren't like those friendship which always hang out together. We even rarely meet in campus because we already have our own bestfriend there.
But who cares? We still know each other so deep we cannot hide anything here.
This is what makes this house home. It is the quality, not quantity. It is the stories, not only the togetherness. It is us, not the others.

Je t'aime, ma famille :)

Jumat, 06 Desember 2013 0 comments

Wait for it.........

Hi fellas. How is life lately?
I cant be lazier than the laziest blogger ever exist in the world. I dont want this blog to just die like that, but I always have excuses to write something here -_-

By the way, I gotta say that I got some significant improvement in my life right now.
What is that?
Wait for it..........
Tengtengtengtengtengteg

I'm wearing hijab!
That thing happened on Nov 30th, ready to brought my life into a brand new stage.

How did it happen?
Let me frankly admit, that the idea of wearing veil is somehow incorrelate with one's character. I used to believe that I gotta be preparing myself first, in the context of habit and behavior whatsoever, so that myself is worth the veil. Turns out that's totally wrong.
My bestfriend taught me in a very friendly and easy way, that your veil wont be reflecting your behavior. Moreover, it represents your identity as a moslem.  If you feel like u can wear hijab after you change your attitude, you might have to change your mind first. Lets think about the opposite, that wearing hijab is one of several ways to enhance yourself as a whole. Its not only about appearance, its identity.
Simple example, people might tell you not to eat in a pork-contained cafe when you're waiting in line and have no idea about the pork thingy. Why? They see your veil, that way they know you're a moslem.

Anyway, I kept asking my bestfriend about my fearness if I wear hijab. From the silliest until the most complicated thing. And she answered all my questions amazingly and instantly erased all my doubts. Until I have nothing to ask anymore.
That very moment, was when I started to realize how essential it is. I have no more reason to not wearing hijab or even simply to suspend it. Me as a moslem woman should have an identity, and me as a moslem in whole perception have to do what God command me to do.
And me, as a person, dont see any problem or obstacle anymore in veil.
So, what am I waiting for?

Now, here I am. I finally feel complete as a person. I'm no joking, this brings the huge fear out of me about everything. I might sound too much, but I have to say that I love myself even more right now. I love my self so much that im finally ready to die :)

Thanks for my bestfriend, she's definitely an angel sent by God to pour the epiphany to my life.

Goodnight, happy reader :)

Selasa, 01 Oktober 2013 0 comments

Life nowadays.

Well, my life.
Have you ever wondered how much six months can change your whole life?
Let's just start from daily habit, friends, and even point of view.

Last semester, I was this girl whose life purpose wasn't as clear as now. I was active in campus organization, but it takes away all my effort in studying, and I was getting my worst IP ever.
Last 2 semesters, to be honest, wasn't at all my favorite time. I did some terrible mistake that if only I can turn back the time, I'd rather choose die than doing it.
But people change as time does, dude. I sooooooo much prefer my life right now.
This semester, all I got is a total productive day everyday.
1. I started to do daily jogging every morning, 1-2 hours a day. Still got those days where I accidentally skip the run, thou.
2. Got a part-time job in a lovely-environment-and-nice-people-and-close-to-home company, Morrigan Servicey. Go there everyday after or before class, except friday.
3. Got another internship chance in a fashion-based company, WhatIWear. Have to go there once a week, every monday. Got very busy with the tasks yet very happy at the same time.
4. Been a little more college person, lately. Always put more attention to the subject and write down everything (yes I didn't do this stuff last semester)
5. Joined the photography extracurricular again. Been very happy with the people inside it, they're all fun. Got to attend the meeting every friday night.
6. Going to have a routine meeting with my beloved english community every monday.

Guys, believe me, I might still not as busy as others, but for a very newbie like me, these things are such joykiller at first. I can't have my own lazy time on the bed anymore. I can't reach home before sunset anymore. I can't even have fun time in campus after class anymore.

But I got no regret. I'm really enjoy doing this. Every night I go to bed with this exhausted feeling, i'm happy because my daily activity wort every penny and the future.

Not to mention that I got these people who's stil there beside me to keep me sane. I can totally forget my cracked bone when I laugh with them.

And him. He is also my ultimate moodbooster this semester. He proves me that a precious thing takes a long time to get. He as well proves me that love can be very absurd. He is beyond my imagination. And I thank God for sending me someone who's proud of me regardless who I actually am, someone who loves me as much as I love him, someone who treats me very very gently, someone who never let me feel like im useless, and the most important thing, someone who makes me I am now, who makes me believe I can, who brings up my self confidence.
Dear F, I less than three you. Let's getting busy together :)

Jumat, 23 Agustus 2013 0 comments

Hating Concept

Konsep membenci itu absurd.
Yang pasti adalah alasan dibalik itu, selalu ada "karena" bagi seseorang untuk membenci seseorang lain. Ada yang membenci karna pernah dikhianati, ada yang membenci karna merasa tersaingi, bahkan ada yang membenci simply karna iri.

Apapun alasannya, jarang sekali orang yang membenci orang lain sementara dia tidak tahu apa-apa mengenai objek yang dia tidak sukai itu. Bahkan sekedar haters  ngaco seperti Anti Peewee Gaskin saja misalnya, yang dulu sempat begitu booming, pastilah mulai membenci band tersebut karna mereka mengetahui sesuatu. Entah apa, yang jelas pada dasarnya mereka tidak suka.

Nah, dengan adanya istilah "mengetahui sesuatu" dibalik alasan untuk membenci itulah, kenapa pada hakikatnya orang yang membenci adalah orang yang kepo. Yang justru bisa-bisa jauh lebih kepo daripada orang yang menyukai.

Disinilah dimana konsep absurd tersebut saya amini, dimana semakin kau membenci seseorang, kemungkinan besar semakin kau ingin mencari tahu lebih dalam mengenai orang tersebut. Dan biasanya, kau tidak akan gagal untuk semakin membenci dan membenci mereka dengan semakin banyak hal yang kau tahu tentangnya.
Absurd sekali bukan?

Ada orang yang benci karna pernah dikhianati, kemudian memutuskan untuk pergi. Di proses meninggalkan, biasanya rasa ingin tahu mereka justru lebih keras dan dalam terhadap update-an orang yang mengkhianati mereka. Semakin mencari tahu, semakin terkuaklah fakta bahwa memang orang ini benar adanya telah berkhianat. Atau bahwa orang ini justru jauh telah lama melupakan keberadaan si pembenci. Merasa senangkah? Oh, you wish. Yang ada akan semakin sakit hati :-)

Pun ada yang saking bencinya sampai-sampai menaruh akun twitter orang yang dibenci dalam satu tab yang disimpan khusus, yang bisa dibuka kapan saja. Dimana semakin tab itu dibuka, semakin meledaklah amarahnya.

Again, hating concept is very absurd.

Persamaan yang dapat saya tarik dari konsep membenci adalah, 
BENCI = PEDULI

Peduli yang berlebihan, peduli yang berbahaya, peduli yang tak rasional, peduli yang menyakitkan.
Ya, membenci itu menyakitkan.

Daripada membenci, jadilah orang yang tidak lagi peduli. Sekali kau dikhianati dan memutuskan untuk pergi, bukakan lebar-lebar pintu maaf untuknya dan berhenti untuk peduli.

Hidupmu akan jauh lebih tenang :-)
Selasa, 06 Agustus 2013 0 comments

TUNGGU SAJA GILIRANMU

Karna terlalu klise rasanya bila kuingatkan bahwa karma itu terus ada.
Senin, 05 Agustus 2013 1 comments

Honesty

Pernah nggak kalian merasa begitu bersalah karna telah, dengan sadar, seringkali menyakiti orang lain? 
Saya pernah. pernah merasa bersalah, bukan berkali-kali menyakiti orang. setidaknya, kali pertama saya melukai perasaan orang lain, dan saya sadar telah melakukannya, saya akan berusaha meminta maaf dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. 
Syukurlah ajaran ayah-ibu saya selalu tak lepas dari menghargai orang lain. Mereka begitu mem-value perasaan orang seperti perasaan sendiri. Dan itu juga adalah apa yang saya ingat hingga sekarang.
Apalagi untuk mereka, orang-orang yang saya sayangi. Saya selalu berusaha menunjukkan dan memperlakukan mereka dengan pantas dan jujur. Entah seperti apa kelihatannya, yang jelas saya sudah berusaha.
Kenapa pantas? Karna saya sangat tidak suka direndahkan. Saya rasa semua orang tidak menyukainya.
Dan kenapa jujur? Dari masa kanak-kanak, saya selalu diajarkan bahwa kebohongan adalah sumber segala kejahatan. Saya sendiri paling, paling, paling tidak suka pembohong. Oleh karena itu, saya juga selalu akan berusaha bersikap jujur pada siapapun.

Saya memang tidak pernah bisa mentolerir kebohongan. Apalagi kalau mata dan kepala saya langsung yang memergokinya. Saya begitu benci :)

Bodohnya, saya kerap beberapa kali membiarkan perasaan dan diri saya disakiti. Berpura-pura tidak tahu demi menjaga hubungan baik itu menyakitkan, bukan? Pengorbanan dua kali lipat yang kau lakukan hanya akan sia-sia. Karna seorang pembohong, akan tetap menjadi pembohong selamanya. Konon katanya berbohong itu candu.

Jujur itu menyenangkan, tapi susah dijalani.
Jumat, 02 Agustus 2013 0 comments

Udah dewasa, belum?

Ramadhan tahun ini bisa dibilang gak terlalu berkesan, tapi banyak pelajaran yang bisa saya ambil.
Entah kenapa harus di Ramadhan tahun ini, bukan tahun kemaren. Mungkin Tuhan sedang mengirim kode bahwa saya memang bertambah dewasa tahun ini, sehingga lebih aware akan banyak hal.

Hal apa sih?

Ada beberapa hal yang saya, dan pastinya banyak makhluk remaja nanggung lain, tunggu-tunggu dari bulan Ramadhan: Ajang kumpul bareng keluarga; THR; dan buka bareng temen-temen.
Nah omong-omong soal buka bareng temen, saya tentunya sangat excited, karna nasib kampus yang jauh di luar kota sana yang menyebabkan saya jarang ketemu sama teman-teman tercinta.
Untuk bulan puasa tahun ini, jadwal bukber saya yang pertama adalah bersama teman-teman SMA seangkatan. Happy much? yes. Saya pulang-pulang radang tenggorokan saking semangatnya bernostalgia sama temen-temen lama. 
left to right: Hesty, Suri, Me, Laras

Disini asal muasal postingan ini tercipta. Muehehehehehe.
Banyak hal yang saya perhatikan di detik-detik bukber saat itu. Saya termasuk yang pertama kali hinggap di lokasi berbuka puasa, sehingga punya banyak waktu untuk observasi. Semacam sok pintar.
Begitu melihat teman-teman SMA saya, secara reflek saya selalu membandingkan mereka versi SMA dengan mereka yang sekarang.
Ada seorang teman yang bandelnya gak ada obat sewaktu SMA, berubah menjadi laki-laki bijak yang independen. Pun teman yang tadinya diam tak terlihat di pojokan pagar mushola SMA, sekarang berkibar kaya bintang rockstar.
Namun 1 hal yang saya sangat sadari dari pandangan general terhadap angkatan saya; masyarakatnya masih aja terkotak-kotak.
Gak dipungkiri sih, banyak orang yang bilang kalau SMA saya terkenal mengkotak-kotakkan pergaulan. Yang gaul gabungnya ya sama yang sesama gaul, kalo nyasar di tumpukan anak cupu, si gaul mendadak gagu. Begitulah sebaliknya.
Yang tajir juga, bakalan enggan temenan sama orang yang duit orangtuanya nggak sebanyak duit orangtua mereka. Malah biasanya, yang ekonominya biasa-biasa aja suka dijadiin bahan ceng-cengan.
Harusnya sih itu hal biasa dimana aja. Wong dikampus saya juga banyak yang tajir melintir, gaul kemana-mana pula. Tapi ya itu tadi, disini, di SMA saya, nyaris haram hukumnya pergaulan antar kasta yang berbeda.
Dengan begitu, saya kembali meneruskan observasi saya ke jenjang lebih spesifik.
Jujur, saya merasa jauh berubah semenjak SMA. Saya yang sekarang tentunya lebih (sedikit) (sedikit banget) (seuprit) dewasa dibanding saya yang dulu. Itu hal yang wajar bukan? Tapi kok ya teman-temen yang saya temui di acara bukber itu masih ada, bahkan banyak, yang gak maju-maju dari jaman jahiliyah itu?
Beberapa bahkan sifatnya masih sama persis, gak dewasa dan semena-mena.
Entah, saya gak akan mau nge-judge lebih dalam. Yang jelas, saya tiba-tiba saja merasa bersyukur memilih berkuliah diluar kota. Kalo aja saya masih stuck di kota ini, mungkin saya yang sekarang gak ada bedanya sama yang dulu. Masih childish, petakilan, wawasannya sempit, ngaco, berantakan, masa depan suram, dan semacamnya.

Tanpa takdir kuliah di luar kota, sulit bagi saya menemukan jawaban akan cara pendewasaan diri di kota ini.

I'm so relieved with who I am now :)
Rabu, 24 Juli 2013 2 comments

Akhirnya Bener Juga

"Nanti kalau udah gede, kakak mau jadi apa?"       Papa, ketika saya barumur 5 tahun, sedang duduk memangku saya di teras depan rumah.

"Mau jadi polisi, kayak papa! Biar keren."

7 tahun kemudian, tepat ketika memasuki bangku SMP, cita-cita saya berganti ingin menjadi pengusaha. Entah pengusaha apa, yang jelas terinspirasi dari buku-buku punya papa. 100 richest person in the world; jangan mau selamanya jadi orang gajian; kisah sukses orang terkaya di Indonesia. Emang dasarnya kutu buku, semuanya saya lahap. Dan semuanya mempengaruhi saya. Cuma, ya, namanya juga anak SMP kelebihan ingus, saya sendiri waktu itu hanya sekedar ingin, belum tau hal apa yang harus saya lakukan untuk mencapai itu. Boro-boro, nentuin SMA pilihan aja bingung. Intinya, saya sampe nulis di buku diary, "Pokoknya, kamu cuma boleh kerja di perusahaan orang maksimal 5 tahun Nicky! Abis itu, wajib bikin perusahaan sendiri."

Sejalannya waktu, menginjak kelas 3 SMP, saya menyadari kalau bakat yang saya miliki dari SD ternyata bisa menjadi option buat cita-cita saya nanti. Semenjak kelas 4 SD, saya suka sekali menggambar. Gambar tiruan sih. Seperti Detektif Conan, Doraemon, Bahkan gambar burung di cover kotak pensil warna Staedler. Kata teman-teman, gambar yg saya buat sangat mirip dengan aslinya. Hobi tersebut saya teruskan di bangku SMP. Saya berkolaborasi dengan sahabat saya untuk membuat sebuah komik, karena kebetulan memang kita sama-sama hobi menggambar dan tipe gambar kita bisa dibilang mirip. Bulet-bulet gimana gitu.
Long story short, kita merampungkan 3 naskah kasar komik, dan sempat beredar di sekolahan untuk dibaca orang-orang. Senengnya bukan main ketika tau ada orang lain yang menghargai karya saya.
Seketika, cita-cita saya berubah menjadi komikus handal. Seterkenal Ono Eriko, atau Aoyama Gosho.

Namun, maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tanganku buntung. Hanya gara-gara saya tidak memasuki SMA yang sama dengan si sahabat, mendadak semua cita-cita apik yang tersusun rapi tentang ingin menjadi komikus runtuh begitu saja. Saya menemukan hobi baru, yaitu menulis. Seringkali teman-teman memuji tulisan saya, katanya dalem.

"dalem kenapa?"
"kenapa ya? susah dimengerti soalnya." ............................... *nyari pecahan beling*

Cita-cita saya pun kembali meloncat, dari komikus ke penulis. Kebetulan dari zaman masih ada pecahan koin Rp. 25-, saya sudah hobi membaca. Bahkan mama tidak pernah bosan bercerita mengenai kebiasaan saya yang rewel mengaduk-aduk isi rumah orang-orang untuk menemukan sebuah bahan bacaan, baru diam. kecilnya aja nggak asik begitu, aduh.
Saya pun mencoba menulis draft novel. Entah kenapa, selalu gagal di pertengahan. Stuck, bahasa kerennya.
Sudah hampir setengah draft novel nanggung yang saya buat, dan terlantar begitu saja. 

Dan akhirnya sekarang. Fakta bahwa saya berkuliah di fakultas ekonomi, tak memungkiri bahwa (harusnya) cita-cita saya juga tak jauh dari sana. Yap, you guess right. Cita-cita saya berubah lagi, kembali ingin menjadi pengusaha. Dan jujur saja, belum tau mau jadi pengusaha di bidang apa.
Pengusaha makanan? Tekstil? Bahan bangunan? Bahan tambang? Fashion? 
Buat sementara ini, kalo ada yang nanya saya mau jadi pengusaha apa, jawabannya masih "Apa aja lah ya. Paling ga jauh-jauh dari hobi sekarang." 
Sedih sih, semacam orang putus asa yang masa depannya sebenernya gak jauh-jauh dari gaji bulanan dan tunggakan listrik.
naudzubillahiminzaliik.
Sekarang sih, saya sebenarnya sudah merasa cukup aman, karna sudah punya path sendiri untuk menjalani hidup kedepannya. Hidup, menurut saya gak perlu dibawa terlalu serius. Santai kaya di pantai, selow kaya di pulau. Tapi ya jangan ngaco juga. You gotta put some goals there. Selama punya tujuan, dan jalur, ya sebenernya tinggal di manusianya aja. Udah siap jalan apa belom? Toh kalo udah, tinggal ngikutin jalur. 
Tantangan pasti bakal ada. Di tengah jalan, bisa aja ada "badai" yang bikin harus istirahat sejenak atau cari jalan lain. Cari jalan lain ya buat tetep sampe ke tujuannya toh? Kalo dari awal tujuannya aja gak jelas, badai kecil aja bisa bikin "jalan alternatif" yang saya ambil tadi mengubah destinasi saya loh. Udah terbukti lah sejak saya berumur 5 tahun. Gak jelas juntrungan, gak tau mau ngapain.

Sekarang anaknya lagi berusaha memperkuat goals dan mempersiapkan diri menghadang badai yang pasti akan menghadang. 
Minggu, 30 Juni 2013 0 comments

Favorite Things

"I always love to buy necklace. I love necklace." That's what my friend told me one time, after she bought her 40th something necklace.
"Arsenal is going to Indonesia this month! I'm so happy I could die. I'm totally gonna watch them." My other friend, whose life is obsessed with Arsenal thingy, although she's a girl.
"There's no joy in life except wearing skirt. I feel so much comfortable wearing these." Said another friend of mine again, while showing her collection of skirts.

Every time I see those stuff above, be it necklace, Arsenal jersey, or skirts, It always reminds me of them. Yes, I guess everyone have something they truly love that whenever someone else see it, they're gonna think of them automatically.

Except me.

I don't think I have this particular thing that I deeply love. I see so many people trying to have their own hallmark in things, let's say monkey doll, striped items, stitch, veils, etc. That way, they're gonna be easy to be remembered.

Then what do I have? I love food. But, yeah, who doesn't? No one will ever remember me whenever they see food. They see food every single time. And it's not going to remind them about my existence.
I don't really have favorite kind of food, I basically love all kind of it. I also don't have any favorite band, song, accessories, shoes, color, artist, or even doll. I don't have that particular thing that I love and I show to everyone and i'm gonna yell over them. I feel like its quite hard for them to remember me. I want to find one, but how -_-

Okay. It's totally random post of me and see you fellas!
Rabu, 26 Juni 2013 0 comments

CHOICES

Once upon a time, there lived a cute girl with her happy family in a very pleasant city. Her life was what every other girl craved for. She got a beautiful face, a bright skin, intelligent brain, cool friends and especially a harmonious family. Her life was the sweetest gift from God.

Unfortunately, it wasn't for so long.

Right after her 13th birthday, her parents divorced. She was extremely sad that she didn't want to talk to anyone for days. She completely changed. A cute, extrovert and innocent girl inside her turned out be a prude, selfish, and lack-of-confidence one. She kept feeling like everyone hates her. She's so sensitive that only an easy joke could got her so angry. She was hardly believing anyone. Insecurity surrounded her whole life. And for everything that has been changed, she never stop blaming her parents. 

As years went by, she is now so far from her childhood picture of the future.She intended to be a good person who always helps everyone in needed. Now she is the one who need help for having so much trouble in her teenager life such as boys issue, drunkenness, low grade, and so forth. She has no intention to shape a good future anymore. 

And that is, from her point of view, all her parents fault. Whenever she feels like guilty or something, she keeps comforting herself back by recalling what her parents just did to her life. She thinks they did it because they never love her, because they never wish for her existence. And there's no reason for her to struggle anymore.

The End.




I made the story for 2 reasons: (1)To spell out the reason behind the bad manners of most teenagers. (2)To clearly disagree with the reason.
I never really understand how a person can judge or blame another person, even in this case is their parents, over their bad choice in life. Its true that your mom gave birth to you, and your dad raised and supposed to cherished you. You know what? They do, and they always do no matter what kind of situation they both are in. If only they are able to pick, separation is none of the option they would choose. You may never understand that there are always some big reason behind it. And for that matter, they never want you to be affected over their action in the present time. They love you even before you born, and nothing's gonna change no matter what, how, or when.
Moreover, you were born to live your life. And I think its pretty silly if you let another person rule it. You still can do better without having to get the same kind of life with those in a harmonious family. Not to mention that you actually have more motivation than others to mend your life. So, never waste the life God has given us. We were exist for a reason, so was every single occurrence. Temptation should brings you wiser. And it's only going to be you who is able to fix your own problem. Others will only listen but are reluctant to fully help you. 
Stop crying, tears make you unable to see clearly. Start walking the right path, and see what the world is still concealed from you. Keep loving and making your parents proud. They are the biggest love on earth after God. They're always one of the reason for you to struggle :)
Sabtu, 22 Juni 2013 0 comments

Enlightenment

Your parents wont ask back what they already did to you. They did it on the behalf of sincerity. It's your responsibility to let them know their efforts are worth the wait. Stay strong, girl. Stay faith. No one, unless your parents, would set you up their priority in life. Never, ever, disappoint them. :)
Jumat, 21 Juni 2013 0 comments

A warming friend, a best friend.

Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light.      Hellen Keller

Sahabat. Satu kata yang sangat kusukai eksistensinya. Banyak sekali analogi dan filosofi dari sahabat, tapi yang paling kusukai adalah bagaimana sahabat dapat menjadikanku sepenuhnya seperti diriku sendiri ketika didepan mereka. 



1. Leliana Anggraini

Sekilas melihatnya, kau mungkin tak akan menyadari potensi sebesar apa yang sedang terpampang didepanmu. Sesosok perempuan dengan kulit sawo matang, rambut hitam lurus sebahu, pipi serta perut yang sedikit chubby (hehehe :-p), mata yang berbinar-binar mengagumkan, dan pembawaan bersemangat namun sederhana. Untuk lebih lanjutnya? Hmmm. Berbincang-bincang dengannya tak pernah membosankan. Semakin lama, semakin membara. Semakin aku betah. Hampir semua hal pernah menjadi topik pembicaraan kita berdua. Dimulai dari hal super penting seperti masa depan, bahkan agama, hingga hal yang tidak terperikan konyolnya seperti jumlah tahi lalat di seluruh badan. Dan semua topik itu seolah-olah melompat dari satu ke lainnya tanpa kita pernah sadari. Ya, berbincang-bincang dengannya memang semenyenangkan itu. 
Awal perkenalanku dengannya dimulai dari bergabungnya aku di sebuah english club di kampusku. Saat itu, aku dan dia hanya sebatas teman 1 club dan interaksi kami terbatas pada senyum dan sapa yang sopan tiap kali bertemu. Hingga ketika aku juga menempati kos-kosan yang ditempatinya, dan kami mulai sering berkunjung ke kamar satu sama lain, aku baru menemukan satu bentuk kenyamanan yang terasa begitu hangat. Aku, menemukan banyak sekali similaritas antara kita berdua. Entah itu dari caranya mendengarkan ceritaku, dari caranya merespon terhadap sesuatu, dari kecenderungannya, aku merasa begitu mirip. Hingga sekarang, kami berdua masih sering mengatasnamakan kemiripan sifat kami atas hal-hal random yang kami jalani. 
Satu hal yang sangat menonjol dari sahabatku yang satu ini adalah, bahwa dirinya terkadang mengingatkanku akan 2 sisi mata uang. Pada satu sisi, ia adalah orang yang begitu tegas dan mantap dalam mengambil keputusan. hal itu menimbulkan kesan bahwa dia dapat memberikan perlindungan kepada orang-orang disekitarnya. Bahwa dia adalah pemimpin yang baik. Namun, disisi lain ia merupakan wanita paling cengeng yang pernah kukenal seumur hidup. Dia bisa mengeluarkan air mata bergalon-galon demi menyaksikan salah satu adegan film Chibi Maruko Chan, dan yang paling sering ikut menangis bersama temannya yang sedang kesusahan, dan sangat berhasil membuatku dan juga orang disekitarnya untuk selalu melindungi dan menghapus airmata dari pipinya. Sifat ini tentu sangat bertolak belakang dengan sifat yang pertama. Fenomena yang jarang sekali kutemukan :p 
Selain itu, prestasi serta pencapaian yang dia punya tak pernah absen membuatku terkagum-kagum. Dimulai dari seringnya dia menjadi salah satu juara umum di sekolahnya, diutus sekolah dan universitas dalam lomba-lomba bertingkat nasional, kemampuan public speakingnya, serta kemampuan akademisnya yang membulatkan mulut ketika kau mendengarnya. (lebay) Untuk seseorang dengan GPA 3.8, hal itu tidak terasa berlebihan bukan?
Sisanya, aku hanya tak pernah berhenti berharap bahwa persahabatanku dengan Eyi akan bertahan selamanya. Bahwa Eyi akan tetap menjadi pendengar terbaik untuk semua masalah yang kuhadapi, pendengar dengan sorot mata fokus, serta gesture mendukung yang sukses meyakinkanku bahwa aku tak hanya sedang didengarkan, tapi juga dipahami. Bahwa Eyi akan selalu menjadi Eyi yang cengeng, yang butuh dilindungi, yang rapuh. Yang jahil, selalu tersenyum, memuji, bergerak kesana-kemari, menghidupi suasana. Eyi yang kusayangi, sahabatku :-)


2. Pearly Adinegoro
Ungkapan kecil-kecil cabe rawit memang terasa paling pas untuk disematkan padanya. Bagaimana tidak, ekspektasi  awal yang kau tanamkan didirinya tak akan pernah semegah apa yang dapat dia persembahkan kehadapanmu kelak. Dia dapat melewati sepanjang malam tanpa tertidur, demi menyelesaikan pekerjaan yang sebagian orang akan memilih untuk menyelesaikannya besok pagi saja. Dengan postur badan begitu mungil, rambut panjang, wajah yang nyaris tanpa ekspresi, ia bahkan dapat mengangkut galon air minum tanpa bantuan. Kecenderungannya untuk tidak pernah meminta bantuan orang disekitarnya kerap membuatku gemas. Gadis ini begitu tangguh, sehingga kadang terkesan angkuh. Ia sanggup melakukan hampir segalanya sendirian, dan membiarkanmu tercengang lebar menyaksikan apa yang tadinya hanya seonggok rencana telah berhasil terealisasi ditangannya. Dalam bentuk masterpiece pula.
Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenal Eyi. Kami berkenalan melalui salah satu jejaring sosial, sebagai sesama mahasiswa baru yang sama-sama berjuang menghadapi kerasnya dunia permabaan. Impresi pertama, cukup jutek. Belakangan aku menyadari bahwa memang Pearly begitu berbeda didunia maya dan nyata. Begitu berbincang-bincang langsung dengannya, tak pernah satu menit pun terlewatkan tanpa aku tertawa keras mendengar lelucon yang ia lontarkan. Apapun yang muncul dari mulutnya seolah ditakdirkan untuk menjadi komedi. Dengan begitu, keberadaannya seringkali menjadi peramai suasana dalam lingkup keluarga kecil kami. Begitu ramah, rendah hati, solid, dan penuh dengan kejutan.
Kejutan? Ya, diantara kami semua, dapat dikatakan Pearly yang paling memiliki element of surprise. Beberapa kali dia secara mendadak melakukan sesuatu yang paling tidak kami ekspektasikan, namun kami butuhkan. Pada awalnya, dia selalu membuat kami bertanya-tanya dan wondering mengenai kualitas hal yang dia akan wujudkan. Setelah itu, selalu hanya rasa kagum dan surprise yang tersisa di wajah-wajah dan hati kami.
Salah satu anak sifat dari element of surprise diatas juga berbentuk kepedulian dan kesigapannya atas hal-hal yang butuh untuk dibenahi. Segala benda-benda rusak dirumah kita dapat dengan cepat diperbaiki olehnya. Bahkan pekerjaan yang tergolong urusan makhluk berjakun pun, tak terkecuali akan tetap diurus oleh Pearly. Sebegitunya dia menghargai rumah ini dan sosok yang berada didalamnya :-)
Menurutku, Pearly adalah sesosok lilin kecil penuh cahaya di keredupan hidupku. Berada didekatnya membuatku sejenak lupa akan masalah-masalah yang kumiliki. Menceritakan masalahku padanya, membawaku pada sebuah perspektif baru yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Mendengarkan keluh kesahnya, memberi masukan padanya, tak pernah memaksaku untuk menjadi orang lain dulu agar didengar olehnya. Ia mengerti, dan percaya akan apa yang kuyakini benar adanya. Ia melakukan itu sepenuhnya dari pandangan objektif seorang Pearly, bukan subjektif. Aku tahu, kita semua tahu, bahwa meskipun Pearly jarang sekali mengekspresikan perasaannya, Sahabatku ini begitu menyayangiku dan kita semua. Sama seperti kita menyayanginya dengan segenap hati kita :-) Menyayangi tanpa akhir Pearly yang lucu, ngangenin, surprising, sweet, dan melindungi.

3. Rani Aqeela
Setelah mendeskripsikan 2 sahabatku diatas, aku sedikit takut untuk menjabarkan perawakan sahabatku ini. Qella, begitu ia kerap disapa, dapat dikatakan hampir memiliki kesempurnaan appearance yang didambakan para wanita. Lebay? Dengan postur setinggi 178 cm, rambut hitam halus sepunggung, mata belo, hidung mancung, pipi tirus, serta kulit eksotis nyaris tanpa kekurangan, kau akan mengangguk bersamaku memuji segala tampilannya. baiklah, selesai disini mengenai penampilan. Aku tak berani berangkat lebih jauh lagi, takut sirik :p
Apa yang akan kau bayangkan ketika pertama kali bertemu dengan sosok gadis berpembawaan tegas dan lugas seperti Qella? Kau tentu akan menyimpan sejuta perasaan segan terhadapnya. Tenang, hal itu hanya akan bertahan sampai ketika kau mendengarnya berbicara. Mendengar suaranya. Suara lembut bernada tinggi yang sama sekali tidak menyeramkan, bahkan lucu. Towew. Detik ketika kau mulai berbincang dengannya, adalah detik dimana kau akan menanggalkan semua ketakutan yang tadi diam-diam merayapi otakmu dan sesungguhnya menyuruhmu untuk memilih tidak berinteraksi saja dengannya. Bukan hanya dari nada suara, tingkah laku pun tak ketinggalan. Aku bersyukur menjadi sahabatnya, karena aku dapat menjadi satu dari orang yang beruntung yang dapat merasakan kehangatan sikapnya. Qella bukanlah orang yang mampu mengekspresikan  perasaannya melalui kata-kata. Instead, dia menyayangiku, menyayangi kita semua melalui tindakan yang ia lakukan. melalui perubahan sikap yang begitu drastis yang ia tunjukkan. Melalui hal-hal kecil yang sederhana, namun bagiku penuh dengan makna. Qella adalah sosok yang akan kau temukan cuek dan tak acuh, namun sekali kau disayangi olehnya, dia terkadang bisa jauh lebih peduli dari siapapun di dunia ini terhadapmu.
Tidak ada yang begitu spesial dari perkenalan awalku dengannya, karena memang kami sejurusan dan sering bertemu. Dimulai dari lingkungan permainan yang sama, lingkup organisasi yang sama, dan pada akhirnya kos-kosan yang sama, hubungan yang tadinya biasa saja berubah judul menjadi spesial dan tak akan terlupakan. Kedekatan itu dimulai dari Qella yang mulai sering curhat mengenai gebetannya pada saat itu, begitupun aku yang tak henti menceritakan kisahku dengan si pacar. 
Gadis yang terperangkap didalam zona nyamannya, begitu aku melihatnya selama ini. Gadis dengan sejuta potensi, namun hanya tidak berani. Tentu saja itu dulu. Qella yang sekarang kukenal adalah gadis yang mulai memberontak, merobek dinding-dinding pembatas hidupnya dengan dunia luar. Merayap mencicipi hal-hal baru tanpa takut. Dan mulai menggali potensi yang telah lama diidap olehnya. Mengikis kekurangan-kekurangan yang ia sadar ia miliki, dengan segenap keinginan untuk maju dan berhasil. Qellaku, gadis cantik yang disiplin dan penyayang.
 
;