"Mamah, aku tadi di sekolah diajarin baca sama bu guru. Abis ini mamah tolong beliin aku buku yang banyak ya."
"Oke, sayang."
Kira-kira begitulah obrolan singkat antara saya dan mama, sesaat setelah saya diperkenalkan kepada aktivitas membaca. Melihat bagaimana 26 buah huruf dapat disusun dan dirangkai satu dan lainnya sehingga membentuk sebuah kata penuh arti, adalah salah satu hal paling menarik di hidup saya sejauh itu (yang pengalamannya juga paling gak jauh-jauh dari manjat pohon ceri).
Sebagai seorang anak berumur 6 tahun, saking sukanya dengan kegiatan membaca, saya bisa benar-benar diam pada 1 posisi, berkutat dengan bacaan yang ada di hadapan saya, sembari berkontemplasi membayangkan bahwa cerita yang sedang saya baca benar-benar terjadi di dalam kepala saya.
Tahun demi tahun, hobi membaca sangat jauh membantu saya dalam memperluas perspektif saya terhadap dunia. Well, we all know that this world is a pretty crazy stage for those who is (un)lucky enough to dive in it. Dari membaca, saya dapat lebih mudah memahami hal-hal yang terjadi di sekitar saya. Membaca, bisa dikatakan sebuah preparation atau persiapan dini terhadap kejadian-kejadian baru yang muncul tanpa bisa diekspektasikan sebelumnya.
Nah, sebagai seorang anak yang tumbuh bersama jutaan kata yang menjadi sahabat saya, saya dulu beranggapan bahwa semua orang tumbuh seperti saya. Turns out I was wrong. Bahkan orang terdekat saya, adik saya sendiri, sangat jarang sekali menyentuh buku seumur hidupnya.
Saya dan adik saya berjarak 3 tahun, yang bisa dibilang nggak jauh-jauh amat. Namun, hingga menginjak usianya yang ke 20 tahun ini, adik saya masih tidak memiliki ketertarikan terhadap buku. Seperti remaja pada umumnya, mayoritas waktu luang yang dia miliki dihabiskan untuk menatap layar smartphone, berinteraksi melalui dunia maya seputar hal-hal berbau pubertas remaja, atau kalau sedang merasa good looking, terciptalah selfie yang bikin memori hp jebol.
Kurang lebih, adik saya adalah refleksi nyata dari mayoritas remaja yang ada di Indonesia belakangan ini; hampir seluruh kegiatannya didominasi oleh smartphone mereka, entah itu dipakai untuk berkirim pesan dengan temannya, scrolling through every social media, selfie, atau apapun yang tidak mengandung makna "produktif" atau "ilmu baru" di dalamnya. Bayangkan apabila kegiatan (yang tidak produktif namun memakan waktu) tersebut digantikan dengan aktivitas membaca. Atau tidak usah dihilangkan lah, cukup dikurangi saya. Tentu saja apabila hal tersebut dilakukan rutin setiap harinya, para remaja tersebut akan mendapat bekal yang cukup untuk masa depannya.
Ingatlah, adik-adik. Waktu berjalan terus tanpa bisa diputar balik, tidak peduli seberapa kerasnya kalian berusaha. Hal apapun yang sedang kalian lakukan saat ini, akan menjadi pertanggungjawaban untuk hal yang kalian alami dalam sehari, seminggu, atau berpuluh tahun kemudian. So, there is no point on wasting your time. Bacalah sebanyak-banyaknya buku untuk mengisi waktu kalian, instead of fokus ke layar LCD dan menjadi masyarakat apatis tanpa rasa ingin tahu dalam dirimu. Bacalah buku apapun, baik itu novel, komik, biografi, atau bahkan buku resep masakan sekalipun. Percayalah, semakin banyak kosakata yang kau tahu dan pahami, semakin mudah dirimu untuk berbaur di lingkungan manapun kau berada. Semakin mudah berbaur, tingkat kepercayaan dirimu pun akan terbentuk dan kamu tidak akan dipandang sebagai seseorang yang "nggak nyambung", atau lebih parahnya lagi, membosankan.
Lagipula, membaca itu menyenangkan loh. Seperti yang dikutip Najwa Sihab, Duta Baca Indonesia untuk saat ini, kegiatan membaca merupakan unsur utama dalam khazanah kehidupan berbangsa. Bangsa tanpa tradisi literasi akan menjadi bangsa kelas teri yang senang memaki, mudah diprovokasi, dan minim imajinasi. Veeeeery well said! Dengan fakta bahwa Indonesia menempati posisi terendah dalam minat baca dari 50 negara Asia, bisa dilihat sendiri kan bagaimana kebiasaan orang Indonesia dalam kehidupan sosialnya. Ada artis yang melakukan sedikit kesalahan, ribuan hujatan akan menghampiri media sosial artis tersebut. Padahal kehidupan personal mereka tidak terusik sedikitpun, tapi entah kenapa orang-orang seperti ini semacam merasa memiliki "tanggung jawab" moral untuk ikut-ikutan menghakimi pihak yang melakukan kesalahan dengan nasihat yang tidak bisa dibilang "baik-baik" pula. Belum lagi sejak adanya Ask FM dengan situs anonymity nya, maka ramailah question box dengan pertanyaan sangat kasar (yang biasanya tidak akan berani mereka tanyakan secara langsung). Nah, generasi seperti inilah yang timbul, yang saya yakin salah satunya disebabkan oleh rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Generasi yang diharapkan akan meningkatkan derajat bangsa Indonesia di mata dunia, tetapi hingga sekarang masih heboh mengurus kehidupan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Cape, deh.
Intinya, tergelitik oleh rendahnya minat membaca masyarakat di Indonesia tercinta ini, saya berniat untuk menggencarkan kegiatan membaca di kalangan remaja. Saya tahu, itu sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Paradigma masyarakat terhadap membaca masih sangat kurang bagus, dimana banyak yang masih beranggapan bahwa membaca itu membosankan, atau tidak menarik sama sekali. Tapi saya akan tetap mencoba, sedikit demi sedikit, mengajak dan mengkampanyekan bahwa membaca itu menyenangkan, dan bahwa, membaca benar-benar merupakan jendela dunia.
Wish me luck :)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact