Minggu, 30 Juni 2013 0 comments

Favorite Things

"I always love to buy necklace. I love necklace." That's what my friend told me one time, after she bought her 40th something necklace.
"Arsenal is going to Indonesia this month! I'm so happy I could die. I'm totally gonna watch them." My other friend, whose life is obsessed with Arsenal thingy, although she's a girl.
"There's no joy in life except wearing skirt. I feel so much comfortable wearing these." Said another friend of mine again, while showing her collection of skirts.

Every time I see those stuff above, be it necklace, Arsenal jersey, or skirts, It always reminds me of them. Yes, I guess everyone have something they truly love that whenever someone else see it, they're gonna think of them automatically.

Except me.

I don't think I have this particular thing that I deeply love. I see so many people trying to have their own hallmark in things, let's say monkey doll, striped items, stitch, veils, etc. That way, they're gonna be easy to be remembered.

Then what do I have? I love food. But, yeah, who doesn't? No one will ever remember me whenever they see food. They see food every single time. And it's not going to remind them about my existence.
I don't really have favorite kind of food, I basically love all kind of it. I also don't have any favorite band, song, accessories, shoes, color, artist, or even doll. I don't have that particular thing that I love and I show to everyone and i'm gonna yell over them. I feel like its quite hard for them to remember me. I want to find one, but how -_-

Okay. It's totally random post of me and see you fellas!
Rabu, 26 Juni 2013 0 comments

CHOICES

Once upon a time, there lived a cute girl with her happy family in a very pleasant city. Her life was what every other girl craved for. She got a beautiful face, a bright skin, intelligent brain, cool friends and especially a harmonious family. Her life was the sweetest gift from God.

Unfortunately, it wasn't for so long.

Right after her 13th birthday, her parents divorced. She was extremely sad that she didn't want to talk to anyone for days. She completely changed. A cute, extrovert and innocent girl inside her turned out be a prude, selfish, and lack-of-confidence one. She kept feeling like everyone hates her. She's so sensitive that only an easy joke could got her so angry. She was hardly believing anyone. Insecurity surrounded her whole life. And for everything that has been changed, she never stop blaming her parents. 

As years went by, she is now so far from her childhood picture of the future.She intended to be a good person who always helps everyone in needed. Now she is the one who need help for having so much trouble in her teenager life such as boys issue, drunkenness, low grade, and so forth. She has no intention to shape a good future anymore. 

And that is, from her point of view, all her parents fault. Whenever she feels like guilty or something, she keeps comforting herself back by recalling what her parents just did to her life. She thinks they did it because they never love her, because they never wish for her existence. And there's no reason for her to struggle anymore.

The End.




I made the story for 2 reasons: (1)To spell out the reason behind the bad manners of most teenagers. (2)To clearly disagree with the reason.
I never really understand how a person can judge or blame another person, even in this case is their parents, over their bad choice in life. Its true that your mom gave birth to you, and your dad raised and supposed to cherished you. You know what? They do, and they always do no matter what kind of situation they both are in. If only they are able to pick, separation is none of the option they would choose. You may never understand that there are always some big reason behind it. And for that matter, they never want you to be affected over their action in the present time. They love you even before you born, and nothing's gonna change no matter what, how, or when.
Moreover, you were born to live your life. And I think its pretty silly if you let another person rule it. You still can do better without having to get the same kind of life with those in a harmonious family. Not to mention that you actually have more motivation than others to mend your life. So, never waste the life God has given us. We were exist for a reason, so was every single occurrence. Temptation should brings you wiser. And it's only going to be you who is able to fix your own problem. Others will only listen but are reluctant to fully help you. 
Stop crying, tears make you unable to see clearly. Start walking the right path, and see what the world is still concealed from you. Keep loving and making your parents proud. They are the biggest love on earth after God. They're always one of the reason for you to struggle :)
Sabtu, 22 Juni 2013 0 comments

Enlightenment

Your parents wont ask back what they already did to you. They did it on the behalf of sincerity. It's your responsibility to let them know their efforts are worth the wait. Stay strong, girl. Stay faith. No one, unless your parents, would set you up their priority in life. Never, ever, disappoint them. :)
Jumat, 21 Juni 2013 0 comments

A warming friend, a best friend.

Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light.      Hellen Keller

Sahabat. Satu kata yang sangat kusukai eksistensinya. Banyak sekali analogi dan filosofi dari sahabat, tapi yang paling kusukai adalah bagaimana sahabat dapat menjadikanku sepenuhnya seperti diriku sendiri ketika didepan mereka. 



1. Leliana Anggraini

Sekilas melihatnya, kau mungkin tak akan menyadari potensi sebesar apa yang sedang terpampang didepanmu. Sesosok perempuan dengan kulit sawo matang, rambut hitam lurus sebahu, pipi serta perut yang sedikit chubby (hehehe :-p), mata yang berbinar-binar mengagumkan, dan pembawaan bersemangat namun sederhana. Untuk lebih lanjutnya? Hmmm. Berbincang-bincang dengannya tak pernah membosankan. Semakin lama, semakin membara. Semakin aku betah. Hampir semua hal pernah menjadi topik pembicaraan kita berdua. Dimulai dari hal super penting seperti masa depan, bahkan agama, hingga hal yang tidak terperikan konyolnya seperti jumlah tahi lalat di seluruh badan. Dan semua topik itu seolah-olah melompat dari satu ke lainnya tanpa kita pernah sadari. Ya, berbincang-bincang dengannya memang semenyenangkan itu. 
Awal perkenalanku dengannya dimulai dari bergabungnya aku di sebuah english club di kampusku. Saat itu, aku dan dia hanya sebatas teman 1 club dan interaksi kami terbatas pada senyum dan sapa yang sopan tiap kali bertemu. Hingga ketika aku juga menempati kos-kosan yang ditempatinya, dan kami mulai sering berkunjung ke kamar satu sama lain, aku baru menemukan satu bentuk kenyamanan yang terasa begitu hangat. Aku, menemukan banyak sekali similaritas antara kita berdua. Entah itu dari caranya mendengarkan ceritaku, dari caranya merespon terhadap sesuatu, dari kecenderungannya, aku merasa begitu mirip. Hingga sekarang, kami berdua masih sering mengatasnamakan kemiripan sifat kami atas hal-hal random yang kami jalani. 
Satu hal yang sangat menonjol dari sahabatku yang satu ini adalah, bahwa dirinya terkadang mengingatkanku akan 2 sisi mata uang. Pada satu sisi, ia adalah orang yang begitu tegas dan mantap dalam mengambil keputusan. hal itu menimbulkan kesan bahwa dia dapat memberikan perlindungan kepada orang-orang disekitarnya. Bahwa dia adalah pemimpin yang baik. Namun, disisi lain ia merupakan wanita paling cengeng yang pernah kukenal seumur hidup. Dia bisa mengeluarkan air mata bergalon-galon demi menyaksikan salah satu adegan film Chibi Maruko Chan, dan yang paling sering ikut menangis bersama temannya yang sedang kesusahan, dan sangat berhasil membuatku dan juga orang disekitarnya untuk selalu melindungi dan menghapus airmata dari pipinya. Sifat ini tentu sangat bertolak belakang dengan sifat yang pertama. Fenomena yang jarang sekali kutemukan :p 
Selain itu, prestasi serta pencapaian yang dia punya tak pernah absen membuatku terkagum-kagum. Dimulai dari seringnya dia menjadi salah satu juara umum di sekolahnya, diutus sekolah dan universitas dalam lomba-lomba bertingkat nasional, kemampuan public speakingnya, serta kemampuan akademisnya yang membulatkan mulut ketika kau mendengarnya. (lebay) Untuk seseorang dengan GPA 3.8, hal itu tidak terasa berlebihan bukan?
Sisanya, aku hanya tak pernah berhenti berharap bahwa persahabatanku dengan Eyi akan bertahan selamanya. Bahwa Eyi akan tetap menjadi pendengar terbaik untuk semua masalah yang kuhadapi, pendengar dengan sorot mata fokus, serta gesture mendukung yang sukses meyakinkanku bahwa aku tak hanya sedang didengarkan, tapi juga dipahami. Bahwa Eyi akan selalu menjadi Eyi yang cengeng, yang butuh dilindungi, yang rapuh. Yang jahil, selalu tersenyum, memuji, bergerak kesana-kemari, menghidupi suasana. Eyi yang kusayangi, sahabatku :-)


2. Pearly Adinegoro
Ungkapan kecil-kecil cabe rawit memang terasa paling pas untuk disematkan padanya. Bagaimana tidak, ekspektasi  awal yang kau tanamkan didirinya tak akan pernah semegah apa yang dapat dia persembahkan kehadapanmu kelak. Dia dapat melewati sepanjang malam tanpa tertidur, demi menyelesaikan pekerjaan yang sebagian orang akan memilih untuk menyelesaikannya besok pagi saja. Dengan postur badan begitu mungil, rambut panjang, wajah yang nyaris tanpa ekspresi, ia bahkan dapat mengangkut galon air minum tanpa bantuan. Kecenderungannya untuk tidak pernah meminta bantuan orang disekitarnya kerap membuatku gemas. Gadis ini begitu tangguh, sehingga kadang terkesan angkuh. Ia sanggup melakukan hampir segalanya sendirian, dan membiarkanmu tercengang lebar menyaksikan apa yang tadinya hanya seonggok rencana telah berhasil terealisasi ditangannya. Dalam bentuk masterpiece pula.
Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenal Eyi. Kami berkenalan melalui salah satu jejaring sosial, sebagai sesama mahasiswa baru yang sama-sama berjuang menghadapi kerasnya dunia permabaan. Impresi pertama, cukup jutek. Belakangan aku menyadari bahwa memang Pearly begitu berbeda didunia maya dan nyata. Begitu berbincang-bincang langsung dengannya, tak pernah satu menit pun terlewatkan tanpa aku tertawa keras mendengar lelucon yang ia lontarkan. Apapun yang muncul dari mulutnya seolah ditakdirkan untuk menjadi komedi. Dengan begitu, keberadaannya seringkali menjadi peramai suasana dalam lingkup keluarga kecil kami. Begitu ramah, rendah hati, solid, dan penuh dengan kejutan.
Kejutan? Ya, diantara kami semua, dapat dikatakan Pearly yang paling memiliki element of surprise. Beberapa kali dia secara mendadak melakukan sesuatu yang paling tidak kami ekspektasikan, namun kami butuhkan. Pada awalnya, dia selalu membuat kami bertanya-tanya dan wondering mengenai kualitas hal yang dia akan wujudkan. Setelah itu, selalu hanya rasa kagum dan surprise yang tersisa di wajah-wajah dan hati kami.
Salah satu anak sifat dari element of surprise diatas juga berbentuk kepedulian dan kesigapannya atas hal-hal yang butuh untuk dibenahi. Segala benda-benda rusak dirumah kita dapat dengan cepat diperbaiki olehnya. Bahkan pekerjaan yang tergolong urusan makhluk berjakun pun, tak terkecuali akan tetap diurus oleh Pearly. Sebegitunya dia menghargai rumah ini dan sosok yang berada didalamnya :-)
Menurutku, Pearly adalah sesosok lilin kecil penuh cahaya di keredupan hidupku. Berada didekatnya membuatku sejenak lupa akan masalah-masalah yang kumiliki. Menceritakan masalahku padanya, membawaku pada sebuah perspektif baru yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Mendengarkan keluh kesahnya, memberi masukan padanya, tak pernah memaksaku untuk menjadi orang lain dulu agar didengar olehnya. Ia mengerti, dan percaya akan apa yang kuyakini benar adanya. Ia melakukan itu sepenuhnya dari pandangan objektif seorang Pearly, bukan subjektif. Aku tahu, kita semua tahu, bahwa meskipun Pearly jarang sekali mengekspresikan perasaannya, Sahabatku ini begitu menyayangiku dan kita semua. Sama seperti kita menyayanginya dengan segenap hati kita :-) Menyayangi tanpa akhir Pearly yang lucu, ngangenin, surprising, sweet, dan melindungi.

3. Rani Aqeela
Setelah mendeskripsikan 2 sahabatku diatas, aku sedikit takut untuk menjabarkan perawakan sahabatku ini. Qella, begitu ia kerap disapa, dapat dikatakan hampir memiliki kesempurnaan appearance yang didambakan para wanita. Lebay? Dengan postur setinggi 178 cm, rambut hitam halus sepunggung, mata belo, hidung mancung, pipi tirus, serta kulit eksotis nyaris tanpa kekurangan, kau akan mengangguk bersamaku memuji segala tampilannya. baiklah, selesai disini mengenai penampilan. Aku tak berani berangkat lebih jauh lagi, takut sirik :p
Apa yang akan kau bayangkan ketika pertama kali bertemu dengan sosok gadis berpembawaan tegas dan lugas seperti Qella? Kau tentu akan menyimpan sejuta perasaan segan terhadapnya. Tenang, hal itu hanya akan bertahan sampai ketika kau mendengarnya berbicara. Mendengar suaranya. Suara lembut bernada tinggi yang sama sekali tidak menyeramkan, bahkan lucu. Towew. Detik ketika kau mulai berbincang dengannya, adalah detik dimana kau akan menanggalkan semua ketakutan yang tadi diam-diam merayapi otakmu dan sesungguhnya menyuruhmu untuk memilih tidak berinteraksi saja dengannya. Bukan hanya dari nada suara, tingkah laku pun tak ketinggalan. Aku bersyukur menjadi sahabatnya, karena aku dapat menjadi satu dari orang yang beruntung yang dapat merasakan kehangatan sikapnya. Qella bukanlah orang yang mampu mengekspresikan  perasaannya melalui kata-kata. Instead, dia menyayangiku, menyayangi kita semua melalui tindakan yang ia lakukan. melalui perubahan sikap yang begitu drastis yang ia tunjukkan. Melalui hal-hal kecil yang sederhana, namun bagiku penuh dengan makna. Qella adalah sosok yang akan kau temukan cuek dan tak acuh, namun sekali kau disayangi olehnya, dia terkadang bisa jauh lebih peduli dari siapapun di dunia ini terhadapmu.
Tidak ada yang begitu spesial dari perkenalan awalku dengannya, karena memang kami sejurusan dan sering bertemu. Dimulai dari lingkungan permainan yang sama, lingkup organisasi yang sama, dan pada akhirnya kos-kosan yang sama, hubungan yang tadinya biasa saja berubah judul menjadi spesial dan tak akan terlupakan. Kedekatan itu dimulai dari Qella yang mulai sering curhat mengenai gebetannya pada saat itu, begitupun aku yang tak henti menceritakan kisahku dengan si pacar. 
Gadis yang terperangkap didalam zona nyamannya, begitu aku melihatnya selama ini. Gadis dengan sejuta potensi, namun hanya tidak berani. Tentu saja itu dulu. Qella yang sekarang kukenal adalah gadis yang mulai memberontak, merobek dinding-dinding pembatas hidupnya dengan dunia luar. Merayap mencicipi hal-hal baru tanpa takut. Dan mulai menggali potensi yang telah lama diidap olehnya. Mengikis kekurangan-kekurangan yang ia sadar ia miliki, dengan segenap keinginan untuk maju dan berhasil. Qellaku, gadis cantik yang disiplin dan penyayang.
 
;