Selasa, 30 Desember 2014 0 comments

Pray for QZ 8501

Hari terakhir di tahun 2014. Let's take some little time to contemplate....

Termasuk hari ini, berarti sudah terhitung 4 hari lamanya aku berada di pulau Lombok. Tujuanku kesini adalah untuk menghabiskan akhir tahun dan menyambut malam pergantian tahun bersama Ibnu dan keluarganya. Ini kali pertama aku mengunjungi pulau lombok, dan rasanya aku ingin lebih lama lagi disini. Kota ini begitu berbeda dari tempatku menempuh pendidikan dan memanjakan kerinduanku terhadap suguhan alam. Lombok is definitely the it place, no wonder people are willing to fly million miles just to see this beautiful land.

Banyak sekali pengalaman seruku disini. Tapi untuk postingan sekarang, aku sedang ingin membicarakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dari kemaren siang mengganggu dan menari-nari di benakku. Sesuatu itu tentang kehilangan orang yang kita sayang.

Yap, beberapa hari lalu Indonesia sedang dirundung kecemasan dikarnakan terputusnya sambungan komunikasi dari pesawat Air Asia QZ 8501 yang sedang terbang dari Surabaya menuju Singapura. Selama terputusnya komunikasi tersebut, media-media seolah tidak berhenti memberitaka  kabar terbaru pencarian yang dilakukan Basarnas. Dari twitter, path, instagram, portal berita, televisi, dan radio, hampir semuanya menayangkan perkembangan terbaru mengenai pencarian pesawat yang hilang tersebut. Aku sendiri sempat membaca beberapa postingan dari keluarga atau kenalan penumpang pesawat tersebut, dimana mereka memohon doa yang tak putus-putusnya agar pesawat tersebut aman dan keluarga/saudara/sahabat/kekasih mereka baik-baik saja keadaannya. Saat itu, jujur saja, aku hanya sedikit khawatir namun belum terlalu memikirkannya. Aku mengikuti perkembangan berita, namun tidak terlalu menghayati dalam hati.

Namun kemarin pagi, akhirnya sebuah kabar yang sangat tidak diharapkan itu datang juga. Tim Basarnas menemukan beberapa mayat yang mengapung di perairan Selat Karimata, dan beberapa pecahan berwarna orange yang diduga pecahan pesawat. Saat mendengar berita tersebut, aku terdiam cukup lama. Hanya satu pertanyaan yang berlari dalam otakku, "Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang mereka tinggalkan?"

Di dalam pesawat yang jatuh tersebut, ada sedikitnya 155 penumpang (belum termasuk pilot dan awak pesawat), yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Entah ada seorang gadis yang ingin menyusul kekasihnya untuk tahun baruan di Singapura, ada seorang ibu yang ingin menemui anaknya yang menuntut ilmu di negeri Singa, ada sekelompok keluarga yang merayakan liburan sekolah anaknya dengan keluar Indonesia, sekelompok remaja yang berlibur bersama teman-temannya, so on and on. Pastinya, mereka menaiki pesawat tersebut untuk sebuah tujuan. Dan dibalik tujuan itu, ada pihak yang entah ditinggalkan, atau menunggu di seberang. Di balik tujuan itu, ada pihak yang berharap perjalanan mereka baik-baik saja sehingga mereka sampai dengan selamat.

Maka di sepucuk berita kehilangan tersebut, ada tangis yang tak terbendung dari mereka yang ditinggalkan, dan yang menunggu kedatangan.

Aku tak bisa tidak memikirkan sakitnya kehilangan tanpa aba-aba seperti itu. Dalam sekejap, hal-hal yang baru saja diklakukan penumpang bersama orang yang mereka sayangi menjadi hal terakhir yang pernah dilakukan bersama-sama. Pelukan sebelum memasuki check-in room, mendadak menjadi pelukan terakhir. Canda tawa di pagi hari sebelum berangkat ke airport, tak akan pernah terulang lagi. Pertengkaran dan permasalahan yang tak lagi bisa dihilangkan dengan kata maaf. Semuanya berganti dengan penyesalan betapa seharusnya pelukan itu berlangsung sedikit lebih lama, betapa seharusnya emosi yang meluap-luap tadi pagi dapat sedikit diredam........

Aku hanya bisa berdoa semoga mereka yang pergi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan mereka yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan untuk menjalani cobaan akhir tahun ini.

Mereka kuat, mereka pasti kuat. Doa hampir seluruh masyarakat dunia berada bersama mereka :)

Minggu, 21 Desember 2014 0 comments

Selamat hari ibu, pahlawanku.

Selamat hari ibu, mama.

Teruntuk mama yang kusayangi, selamat hari ibu.
Terima kasih telah menjadi mama untuk cici, dedek, ami, bang nando, dan bang willy. Banyak hal telah mama lalui demi kami.
Cici tau, mama bukan gambaran ibu sempurna yang diceritakan di kisah-kisah terkenal, mama juga bukan ibu yang bisa segalanya. Mama, hanyalah manusia biasa.
Mama hanya wanita biasa yang menyayangi anaknya dengan cara mama sendiri. Mama selalu yakin bahwa anak mama harusnya bisa lebih hebat daripada anak lainnya. Mama begitu jauh dari sosok ibu yang memanjakan anaknya. Bagi mama, kemandirian harus dipupuk sejak dini. Makanya sekarang cici tidak gentar sama sekali menghadapi kehidupan di kota ini sendirian, ma. Mama tidak pernah ingin cici hidup bergantung pada orang lain, sehingga mama mengajarkan cici untuk bersosialisasi dengan baik. Mama tidak ingin cici boros, sehingga mama hanya membelikan cici benda yang benar-benar cici butuhkan. Mama tidak ingin cici direndahkan oleh lelaki, sehingga mama kekeuh cici harus kuliah dan bekerja, tidak bergantung pada suami. Mama tidak ingin cici melupakan satupun nasihat mama, sehingga mama kadang terkesan cerewet.

Kadang cici merasa tidak senang dengan suruhan-suruhan mama pada saat cici sedang sibuk dengan urusan cici sendiri.
Kadang cici kesal pada saat mama meminta tolong cici untuk melakukan hal yang tidak cici suka.
Kadang cici masih sebel dalam hati, sama mama.


Maafin cici ya, ma.

Ketahuilah ma.
Bahwa dibalik itu semua, cici begitu takut kehilangan mama. Cici begitu takut melihat kerutan di wajah mama yang semakin kentara, pertanda mama sudah semakin tua.
Bahwa di balik itu semua, motivasi terbesar bagi cici untuk terus maju adalah demi melihat mama bangga. Demi mendengar mama membanggakan cici ke semua orang.
Bahwa di balik semua itu, selalu ada sebuah doa yang terselip, agar mama selalu diberikan kesehatan tanpa henti, dan agar dosa-dosa mama diampuni oleh-Nya.

Saat ini, ma, cici belum bisa menjanjikan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, cici saat ini sedang berlari untuk mengejar sebuah titik yang mama banggakan. Cici sedang berjuang untuk itu, ma. Agar air mata serta keringat yang pernah mama curahkan tidak sia-sia.

Maafkan cici yang masih jauh dari istilah anak berbakti, ma. Terkadang cici masih mementingkan hal lain dibanding mama, tanpa cici sadar bahwa saat itu mama sedang sangat membutuhkan cici.

Terima kasih atas 21 tahun perjuangan mama dalam membentuk cici menjadi seperti sekarang. Cici, sebagai anak, mungkin hanya akan sanggup membalas sedikit nanti. Tetap sehat ya, ma. Jangan mengeluh kakinya keram lagi. Karna dibalik diamnya cici, sebenarnya cici gak pernah sanggup mendengarnya, ma.

Cici sayang mama ❤️
Kamis, 18 Desember 2014 0 comments

Tentang sahabat

Selamat pagi menuju siang, Nicky.

Harusnya saat ini aku telah belajar untuk tidak menulis apapun mengenai orang-orang yang kusayang selain keluarga di blog ini. Well, yah, karna ada kemungkinan dimana nantinya tulisan itu tidak lagi akan berarti karna subjek yang kau ceritakan tersebut sudah pergi meninggalkanmu :) 

Tapi, sekali lagi, sebagai orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya secara langsung, aku memang memilih media blog ini sebagai tempatku menumpah-ruahkan perasaan. Di dalam sebuah tulisan, semua kenangan dan perasaan yang saat ini kurasakan, akan mengkristal. Salah satu cara untuk mengingatkanku bahwa aku pernah, menyayangi sebuah subjek tanpa alasan, mempedulikan seseorang dengan penuh, dan menghargainya sebagai siapa dia bagiku; kekasih, sahabat, dan peran penting lainnya. Sehingga apabila nantinya perasaan itu mulai memudar, aku tinggal membuka kembali lembaran blog ini untuk membantuku mengisi kotak kosong yang tadinya penuh dengan berbagai emosi indah.

Cukup intro nya. Kali ini aku ingin menceritakan kisahku bersama 2 laki-laki yang dengan bangga bisa kupanggil sahabatku.

Mereka adalah dua orang yang unik. Mereka membuatku sering iri dengan kemampuan mereka untuk menilai sebuah film dengan pandangan yang cerdas, sebuah hal yang sulit sekali kulakukan karna biasanya setelah menonton film aku selalu lupa jalan cerita detailnya. Mereka bukanlah orang yang akan kutemui setiap hari, namun setiap kita bertemu, selalu ada sebuah momen berkualitas disana.
Mereka, mungkin karna mereka laki-laki, adalah sedikit sekali dari orang terdekatku yang dapat secara jujur menyatakan apa yang mereka rasakan terhadapku, memberikan kritik apabila menurut mereka aku sedang berada di jalan yang salah, tanpa membuatku merasa sedih.

Entah dengan cara seperti apa, mereka mampu membuatku merasa aku akan baik-baik saja selama aku berteman dengan mereka. Tanpa sepatahpun kata, mereka sanggup meyakinkanku akan itu. 

Saat ini kami bertiga sedang sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Dengan tugas akhir kuliah, bisnis, dan kekasih masing-masing.
Kuharap kita akan selalu peduli untuk satu sama lain :) dan kuharap tidak ada yang berubah lagi. Dan tentunya, semoga kita bertiga berhasil dalam apapun yang sedang kita tempuh saat ini. Hingga nanti saat kita sedikit lebih tua, akan selalu ada pertemuan-pertemuan yang memberi kita warna. 


Have a good day, Obs dan Bims!
Kamis, 04 Desember 2014 0 comments

Resolusi Akhir Tahun yang Sederhana

Dan tidak terasa, Desember menjelang.
Sejauh memori saya, rasanya begitu banyak hal yang terjadi di tahun ini, yang menyumbang berbagai warna berbeda dalam hidup saya. Just to recall the memories a little bit.......

Permulaan tahun 2014...
Saya merayakannya secara sederhana di salah satu rumah teman dekat saya bersama teman-teman lainnya. Berdiri dengan antusias di balkon, menyalakan kembang api dan ikut hanyut bersama dentuman petasan tanda dimulainya tahun baru 2014. Saat itu saya tidak memiliki resolusi apapun untuk tahun menjelang, entah kenapa. Mungkin karna saya telah merasa cukup dengan apapun yang saya miliki saat itu.


Pertengahan 2014....
Dapat dibilang adalah saat tersibuk dan terproduktif di hidup saya. Dengan intensitas magang, kuliah, dan kepanitiaan dalam acara kampus yang cukup padat, saya merasa sangat hidup dan bersemangat. I felt really fresh to see a whole new world outside mine.
Selain itu, di pertengahan tahun juga saya bertemu dengannya, dia yang hingga sekarang selalu terselip dalam setiap doa saya, dan yang doanya selalu saya amini adanya.

Akhir 2014.....
Sebuah kekecewaan yang mendalam menimpa saya dan sangat mengubah cara saya memandang dunia, perihal ekspektasi berlebih terhadap beberapa orang terdekat di hidup saya. Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Adalah bahwa di akhir tahun 2014 ini, salah satu resolusi hidup yang entah dari kapan saya ucapkan diam-diam akhirnya terwujud. Saya berhasil memulai bisnis kecil-kecilan beratasnamakan kedai kopi, bersama dia. BellyKupi, sebuah kedai kopi yang saya dan dia perjuangkan dari titik nol dan sudah mulai menjalani bulan ketiga sekarang. Bisnis ini bukan sebuah bisnis besar yang ribet dengan segala tetek bengeknya, naun cukup sangat menyita perhatian saya and i'm pretty excited about it like always. Saya harap, 5 tahun dari sekarang, BellyKupi bukan lagi sekedar sebuah kedai kopi :)


Dan sekarang, kurang dari sebulan menuju tahun baru, resolusi baru, hidup baru. Melihat setahun ke belakang, saya merasa masih belum menjalani semuanya secara maksimal. Saya merasa masih ada banyak waktu yang terbuang, banyaknya opportunity cost dari tindakan-tindakan yang saya pilih, dan kurangnya saya dalam menikmati hidup.
Kabar baiknya adalah, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Saya harus berjanji untuk lebih memanfaatkan waktu dengan baik, melakukan hal-hal yang walaupun sulit namun akan saya syukuri beberapa tahun dari sekarang, dan lebih banyak berdoa serta bersyukur atas apa yang saya miliki.

Sekarang, sudah saatnya bagi mata, telinga, tangan, kaki, dan hati untuk bekerja lebih keras. Sudahi waktu yang terbuang percuma, selesaikan urusan yang berguna, dan segera raih mimpi yang sempat tertunda :)

Semangat menjalani bulan terakhir tahun 2014, Nick!
 
;