Termasuk hari ini, berarti sudah terhitung 4 hari lamanya aku berada di pulau Lombok. Tujuanku kesini adalah untuk menghabiskan akhir tahun dan menyambut malam pergantian tahun bersama Ibnu dan keluarganya. Ini kali pertama aku mengunjungi pulau lombok, dan rasanya aku ingin lebih lama lagi disini. Kota ini begitu berbeda dari tempatku menempuh pendidikan dan memanjakan kerinduanku terhadap suguhan alam. Lombok is definitely the it place, no wonder people are willing to fly million miles just to see this beautiful land.
Banyak sekali pengalaman seruku disini. Tapi untuk postingan sekarang, aku sedang ingin membicarakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dari kemaren siang mengganggu dan menari-nari di benakku. Sesuatu itu tentang kehilangan orang yang kita sayang.
Yap, beberapa hari lalu Indonesia sedang dirundung kecemasan dikarnakan terputusnya sambungan komunikasi dari pesawat Air Asia QZ 8501 yang sedang terbang dari Surabaya menuju Singapura. Selama terputusnya komunikasi tersebut, media-media seolah tidak berhenti memberitaka kabar terbaru pencarian yang dilakukan Basarnas. Dari twitter, path, instagram, portal berita, televisi, dan radio, hampir semuanya menayangkan perkembangan terbaru mengenai pencarian pesawat yang hilang tersebut. Aku sendiri sempat membaca beberapa postingan dari keluarga atau kenalan penumpang pesawat tersebut, dimana mereka memohon doa yang tak putus-putusnya agar pesawat tersebut aman dan keluarga/saudara/sahabat/kekasih mereka baik-baik saja keadaannya. Saat itu, jujur saja, aku hanya sedikit khawatir namun belum terlalu memikirkannya. Aku mengikuti perkembangan berita, namun tidak terlalu menghayati dalam hati.
Namun kemarin pagi, akhirnya sebuah kabar yang sangat tidak diharapkan itu datang juga. Tim Basarnas menemukan beberapa mayat yang mengapung di perairan Selat Karimata, dan beberapa pecahan berwarna orange yang diduga pecahan pesawat. Saat mendengar berita tersebut, aku terdiam cukup lama. Hanya satu pertanyaan yang berlari dalam otakku, "Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang mereka tinggalkan?"
Di dalam pesawat yang jatuh tersebut, ada sedikitnya 155 penumpang (belum termasuk pilot dan awak pesawat), yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Entah ada seorang gadis yang ingin menyusul kekasihnya untuk tahun baruan di Singapura, ada seorang ibu yang ingin menemui anaknya yang menuntut ilmu di negeri Singa, ada sekelompok keluarga yang merayakan liburan sekolah anaknya dengan keluar Indonesia, sekelompok remaja yang berlibur bersama teman-temannya, so on and on. Pastinya, mereka menaiki pesawat tersebut untuk sebuah tujuan. Dan dibalik tujuan itu, ada pihak yang entah ditinggalkan, atau menunggu di seberang. Di balik tujuan itu, ada pihak yang berharap perjalanan mereka baik-baik saja sehingga mereka sampai dengan selamat.
Maka di sepucuk berita kehilangan tersebut, ada tangis yang tak terbendung dari mereka yang ditinggalkan, dan yang menunggu kedatangan.
Aku tak bisa tidak memikirkan sakitnya kehilangan tanpa aba-aba seperti itu. Dalam sekejap, hal-hal yang baru saja diklakukan penumpang bersama orang yang mereka sayangi menjadi hal terakhir yang pernah dilakukan bersama-sama. Pelukan sebelum memasuki check-in room, mendadak menjadi pelukan terakhir. Canda tawa di pagi hari sebelum berangkat ke airport, tak akan pernah terulang lagi. Pertengkaran dan permasalahan yang tak lagi bisa dihilangkan dengan kata maaf. Semuanya berganti dengan penyesalan betapa seharusnya pelukan itu berlangsung sedikit lebih lama, betapa seharusnya emosi yang meluap-luap tadi pagi dapat sedikit diredam........
Aku hanya bisa berdoa semoga mereka yang pergi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan mereka yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan untuk menjalani cobaan akhir tahun ini.
Mereka kuat, mereka pasti kuat. Doa hampir seluruh masyarakat dunia berada bersama mereka :)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact