Jumat, 05 Agustus 2016 0 comments

Friendly Reminder

Hi, guys!

So, I just read some of my old post in this (stinky) blog, and a suddent thought hit me........
I seemed happier back then.

Then I thought about it over and over, which lead me to one most possible explanation; I didn't happier, I just happened to appreciate life less than before currently. There are a lot of amazing things happen to me, and yet I decided to keep it by myself instead of sharing it in this blog. 

Maybe it's a friendly reminder for me not to just forget this old friend :p
Minggu, 31 Juli 2016 0 comments

Membedah buku Sidney Sheldon

Sidney Sheldon.

Nama ini sudah menemani hampir setengah perjalanan hidup saya yang biasa-biasa aja ini. Buat yang belum tau, Sidney Sheldon adalah seorang novelis terkenal, yang genre novelnya berkisar pada thriller fiction dan sedikit sentuhan romance.
Sepanjang mengingat masa-masa SMP saya, sedikit sekali kenangan yang dapat menyaingi momen menyenangkan membaca buku-buku Sidney Sheldon koleksi kakak saya (yes, thank God, she introduce me to those beautiful books).
Jujur, awalnya saya sedikit skeptis melihat buku yang menurut saya sangat tebal dan author yang tidak dikenal. Namun, kegabutan anak SMP kebanyakan mecin memaksa saya untuk penasaran dan mencoba membaca halaman pertama.

Hingga saya menemukan diri saya tidak mampu berhenti pada setiap kalimat-kalimat magis Sheldon di buku tersebut.

Buku pertama Sidney Sheldon yang saya baca berjudul "Master of the Game". Buku ini menceritakan tentang keluarga MacGregor/Blackwell dalam 6 keturunan, dimana masing-masing pihak memiliki andil yang membentuk keluarga tersebut saat ini. Adalah Kate Blackwell, seseorang yang dijuluki "ratu berlian", yang memiliki perusahaan multinasional raksasa dunia bernama Kruger-Brent Ltd.  Pada bab awal, diceritakan Kate sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 90 dengan keluarga dan temannya. Namun, instead of celebrating it, Kate merasa dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang mencoba menghancurkannya, dan yaking orang tersebut ada di ruangan yang sama dengannya. Kemudian cerita dilanjutkan dengan kisah-kisah terpisah dari berbagai anggota keluarga, maulun teman-teman yang terlibat.

Setiap cerita merupakan perjalanan yang mendebarkan, unik, dan memiliki porsinya masing-masing terhadap keluarga besar tersebut. Dimulai dari Jamie MacGregor, ayah kandung Kate, yang memulai hidupnya sebagai seorang Skotlandia yang miskin, dan kemudian memutuskan untuk mengarungi separuh dunia menuju Afrika Selatan, untuk mencari berlian.

Setiap bab akan menceritakan kisah-kisah yang berbeda, yang pada akhirnya akan menemukan benang merah dan menjadikan seluruh kisah menjadi satu kesatuan. Saya sangat terpukau melihat bagaimana Sidney Sheldon menyampaikan seluruh kejadian in an unecpected, and brilliant way. Setiap bab hampir pasti selalu diakhiri dengan sebuah statement yang either mengejutkan, tidak terduga, dan membuat penasaran. Disinilah, saya rasa, letak dari personal branding seorang Sidney Sheldon. Beliau mampu menyedot seluruh perhatian para pembaca terhadap buku di hadapan mereka, dan tanpa sadar sudah melewatkan 1 hari penuh tanpa melakukan apapun selain berkutat dengan bukunya. 

Sidney Sheldon is a masterpiece. 
For me, personally, he is a savior. He saved me from a boring and mediocre teenager life. He gave me a lot of insight and knowledge in a single book. And most importantly, he told me that if you're being a good person, good things won't always happen, but if you're being a bad person, then bad things will always follow.

Selanjutnya, saya menemukan diri saya untuk mencari dan membaca lebih banyak buku karya Sheldon. Bahkan sampai sekarang. 

Beberapa buku Sidney Sheldon yang sudah saya baca adalah:

1. Master of the Game (10/10)



Plot ceritanya sudah saya jelaskan diatas. What makes me give this books a perfect ten rating is because I see it more as an art rather than a book. Seni menyampaikan banyak sekali kisah dalam 1 buku, dan kembali merajut benang merah yang mempertemukan mereka semua, menurut saya sangat brilliant. I don't have any complaint at all.

2. If Tomorrow Comes (8/10)

Buku ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Tracy Whitney yang terjebak dalam kasus penipuan terhadap ibunya, yang kemudian menyebabkan ibunya bunuh diri akibat depresi. Gadis ini bertekad untuk membalaskan dendam ibunya, namun malah terjebak permainan mafia kelas kakap yang kemudian menjebloskannya ke penjara. Dari sana, dimulailah perjalanan Tracy dalam menyusun rencana balas dendam terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya. 

This book is awesome as it is. Lagi, penyampaian cerita ala Sidney Sheldon yang tidak terduga menghipnotis saya . Namun, tidak seperti biasanya, dalam buku ini Sheldon tidak menceritakan kisah tersebut dalam banyak angle. Tracy merupakan tokoh utama, dan hampir seluruh cerita dikisahkan dari sudut pandangnya. Sehingga, dibanding bukunya yang lain, menurut saya If Tomorrow Comes memiliki angle yang lebih sempit. Selain itu, alur cerita yang selalu maju dan memiliki ritme yang sama sedikit menjadikan buku tersebut agak membosankan. Well, but still, it is quite a masterpiece.

3. The Other Side of Midnight (9/10)

The Other Side of Midnight adalah salah satu buku Sidney Sheldon dengan skandal terbanyak yang pernah saya baca. Buku ini bercerira seputar harta kekayaan, perselingkuhan, pembalasan dendam, dan pembunuhan. Keberanian Sheldon dalam menyampaikan cerita-cerita tersebut dengan cara yang brilian dan tidak terduga kembali menghipnotis saya. What makes this novel get a 9 is just because it is not longer. Hahaha.

4. Bloodline (10/10)

Membaca buku ini sebenarnya mirip-mirip dengan menonton sinetron indonesia. Ceritanya tidak jauh-jauh dari perebutan harta kekayaan keluarga. Sam Roffe adalah pemilik tunggal perusahaan farmasi Roffee and Sons, yang kibaran sayapnya telah mencapai seluruh dunia. Namun secara mendadak, Sam Roffe meninggal akibat tergelincir pada saat snow diving. Sam meninggalkan satu-satunya anak perempuan yang baru beranjak dewasa, Elizabeth. Kisah cerita didominasi dengan perjuangan Elizabeth untuk mempertahankan perusahaan ayahnya dari para keluarga dan teman yang ingin merebutnya dengan cara-cara busuk mereka.

Well, this novel is a genious! Background yang standar tidak menjadikan novel ini serta merta standar dan kurang bisa dinikmati. Instead, Sheldon berhasil menyuguhi cerita-cerita hebat dan gila dalam ruang lingkup yang terbatas. I salute him for this.

5. The Naked Face (8.5/10)





Cerita mengenai percobaan pembunuhan yang menimpa beberapa pasien dari seorang psikiater ternama, Judd Steven. Setelah beberapa dari pasiennya meninggal dengan cara yang tidak wajar, Judd Steven merasa sang pembunuh mulai mengincar dirinya. Selanjutnya, adalah hari-hari yang dilewatkan untuk mencari siapa pelaku yang ada di balik semuanya.

Saya menyukai sebagian besar plot ceritanya, namun kurang menikmati dinamika cerita yang mayoritas diisi oleh ketegangan dan teror. Kurang adanya percikan romantisme atau sudut pandang lainnya membuat cerita ini agak timpang.

6. The Doomsday Conspiracy (10/10)


The Doomsday Conspiracy bercerita mengenai seorang investigator bernama Robert Bellamy yang disewa NSA untuk menyelidiki jatuhnya sebuah balon udara luar angkasa di Switzerland. Penyelidikan ini membawa Robert ke cerita sebenarnya, serta skandal yang terjadi di balik itu semua.

This book is awesomely unique! Saya sangat menyukai keseluruhan penyampaian, plot, genre, dinamika dan lainnya. It totally deserves a perfect ten.

7. The Stars Shine Down (8/10)

Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Lara Cameron, pemilik rangkaian perusahaan raksasa yang tersebar di berbagai benua. Lara Cameron berasal dari keluarga miskin, dengan ayah yang tidak pernah menyayanginya. Kemudian, dengan tekad bulat, Lara memutuskan untuk menaklukkan dunia melalui permainan bisnis yang biasanya didominasi oleh para laki-laki, yaitu bisnis properti. Perjalanan Lara Cameron dalam mengarungi dunia bisnis yang kejam, dibarengi dengan sedikit perjalanan romantisnya, dibalut dengan apik oleh seorang Sidney Sheldon.


Dari ketujuh buku Sidney Sheldon yang telah saya baca, Master of the Game is still the winner. Mungkin lebih karena itu buku pertama yang saya baca, dan bahkan meski sudah 9 tahun berlalu sejak saya membaca buku itu, hampir keseluruhan detail ceritanya belum ada yang saya bisa lupakan. 

Well done, sir.








0 comments

Ironi.

Terkadang, hidup adalah mengenai bertanya tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Apabila ada hal yang paling menyedihkan di dunia, salah satunya mungkin untuk tidak dapat memiliki hak untuk menikmati hal-hal sederhana, seperti makanan, keluarga inti, atau pakaian. 
Cerita nyata di bawah ini membuat saya melihat kehidupan dari sudut berbeda. Sudut yang gelap, dan memilukan. Cerita ini saya kutip dari jawaban seseorang bernama Zack Jaffri di website Quora.

(Translate-nya ada di bawah.)

"So here goes the story:
I was visiting a poverty stricken area in Mumbai suburb back in 2012. I was doing an independent study to assess the impact of poverty on kids. The area I was visiting was primarily Moslem dominated neighborhood. I was going house to house chatting with the families, their kith and kins. These people were REALLY poor barely making ends meet.
As I was walking the streets going door to door, I noticed a small , sad, cute looking girl (I’d say around 6 years of age) following me around without much clothing to protect her from cool and chilly Mumbai breeze. By the time I covered 10 houses, it was close to 2PM and I was ready to take a quick lunch break. It was here that I decided to intercept my “elusive” friend.
What happened next led me to question my own existence, who am I? why am I here? Why were we created?
Here is the conversation:
Me: what is your name? Where do you live? Why are you following me? Should I visit your house?
Girl: my parents call me Bulbul. I live six houses down the road.
She stopped talking at this point. I urged her to tell me her story. So I sat her on my lap, gave her a candy and urged her to continue her story.
She continues, “ I have a brother at home. He is 4 years old. Ten days ago, my dad passed away of starvation cuz he could not get enough food for all of us. It was enough for my mum, myself and my brother but not for him. He went without food for several days, living on water but making sure he fed us. After he died, we were left with no one to take care of us. However, upon hearing the news of the death of my father, several families from the neighborhood sent us food three times a day for a week and then the food STOPPED coming. (I guess, it is a culture, whether religious or non-religious, to bring food to the grieving family). Now we are back to our old situation, NO FOOD, and we are starving again with no food for the past 2 days.”
So at this point, I asked her, “So what will you or your family plan to do?”
Her reply shook me.
She said, “I am waiting for my brother to die so my mum and I can be fed by the neighbors. After that food is finished then I will die so the neighbors can bring food to feed my mom.” This is from a 6 year old."

TRANSLATE:

"Jadi begini ceritanya..
Saya sedang mengunjungi daerah yang dilanda kemiskinan di kawasan Mumbai pada tahun 2012. Saya sedang melakukan studi independen untuk menilai dampak dari kemiskinan terhadap anak-anak. Area yang saya kunjungi pada dasarnya didominasi oleh umat beragam islam. Saya mengunjungi setiap rumah dan berbincang dengan para keluarga dan kawan-kawannya. Para keluarga ini SANGATLAH miskin, mereka bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan inti.  
Sepanjang perjalanan mengunjungi rumah ke rumah, saya menyadari ada seorang gadis kecil lucu yang terlihat murung (sekitar 6 tahun) mengikuti saya berkeliling dengan pakaian seadanya yang tidak mampu melindunginya dari udara dingin Mumbai. Setelah mengunjungi 10 rumah, jam sudah mendekati pukul 2 siang dan saya bersiap untuk istrahat makan siang. Disinilah saya memutuskan untuk mencegat teman yang "sulit dimengerti" itu.
Apa yang terjadi setelahnya membawa saya pada pertanyaan mengenai keberadaan saya, siapa saya? Mengapa saya disini? Mengapa kita diciptakan?

Begini percakapannya:
Saya: siapa namamu? Kamu tinggal dimana? Kenapa kamu mengikutiku? Haruskah aku mengunjungi rumahmu?
Gadis kecil: orang tuaku memanggilku Bulbul. Aku tinggal di rumah ke-enam di bawah sana.

Dia berhenti bicara pada titik ini. Saya mendesaknya untuk menceritakan kisahnya. Jadi, saya mendudukkannya di pangkuan saya, memberinya sebuah permen, dan memintanya untuk melanjutkan kisahnya.

Dia melanjutkan. "Aku memiliki seorang adik laki-laki. Dia berumur 4 tahun. 10 hari yang lalu, ayahku mati kelaparan karna beliau tidak punya cukup makanan untuk kita semua. Makanan itu cukup untukku, ibuku, dan adikku tapi tidak untuknya. Dia tidak makan apapun selama beberapa hari, hanya minum air, dan memastikan kami semua masih bisa makan. Setelah dia meninggal, kami sendirian tanpa satu orangpun yang peduli pada kami. Namun, mendengar kabar kematian ayah, beberapa tetangga  mengirimi kami makanan 3 kali sehari selama seminggu, dan lalu makanan-makanan tersebut BERHENTI datang (saya rasa, ini semacam tradisi, beragama ataupun tidak, untuk membawa makanan kepada keluarga yang berduka). Sekarang kami kembali kepada situasi sebelumnya, TANPA MAKANAN, dan kami kembali kelaparan dan tidak makan apapun selama 2 hari ini.
Lalu, pada titik ini, saya bertanya, "Lalu apa yang kamu atau keluargamu akan lakukan?"

Jawabannya sangat mengejutkanku.

Gadis itu berkata, "Aku menunggu kematian adik laki-lakiku, agar aku dan ibu diberi makanan lagi oleh para tetangga. Setelah makanan itu habis, maka aku akan mati dan tetangga akan kembali memberi makanan untuk ibuku."
Kalimat seperti ini datang dari seorang anak berumur 6 tahun."

Well..... This cracks me to my bone. Bagaimana bisa, di belahan dunia lain ada manusia yang dapat makan apapun yang mereka mau, sementara di tempat lain, seseorang harus kehilangan keluarganya untuk bisa makan. Apakah hidup harus menjadi setimpang itu untuk beberapa orang yang "kurang beruntung"? Apakah ketimpangan seperti ini akan selalu ada hingga bumi mencapai titik akhirnya? 
Jumat, 03 Juni 2016 0 comments

Review Buku Sabtu Bersama Bapak

Cover depan buku Sabtu Bersama Bapak

Sebenarnya, sudah lumayan lama sejak saya selesai membaca buku ini. Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah dari salah seorang teman. Sabtu Bersama Bapak, adalah salah satu dari sedikit buku yang berhasil membuat mata saya bengkak karna kebanyakan mewek :)))

SYNOPSIS
Bukan, buku ini bukan bercerita tentang seorang Bapak yang menghabiskan waktu bersama anaknya setiap hari Sabtu dengan melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan. Tadinya, saya kira juga begitu.

Buku ini menceritakan tentang seorang ayah yang meninggal di usia muda, meninggalkan 2 orang anak laki-laki, Cakra dan Satya, yang keduanya juga masih berusia belia. Sang ayah meninggal karena penyakit berat yang dideritanya. Instead of spending his last days in sorrow, beliau memutuskan untuk membuat sesuatu yang dapat menjadi bekal bagi anak-anaknya hingga dewasa. "Bekal" tersebut berbentuk ratusan video yang berbeda, yang dapat diputar pada setiap hari Sabtu, dan dialamatkan kepada masing-masing anak.

REVIEW
Nah, disini, kira-kira sudah ketahuan kan ceritanya seperti apa? 
Sebenarnya memang tidak ada unsur surprise dalam cerita ini. Ngga ada ceritanya tiba-tiba sang ayah ternyata masih hidup, atau ternyata beliau direkrut oleh tim alien yang menginvasi bumi. Tidak. Ceritanya memang sebagaimana adanya yang telah digambarkan pada sinopsis diatas.
Terus, serunya dimana?
Hmmm, begini... Untuk seseorang yang sangat dekat dengan ayah, membaca judulnya saja sudah membuat saya sangat tertarik untuk mengupas habis bukunya.  Membaca halaman awal, saya jujur saja tidak berekspektasi terlalu banyak pada buku ini. Mungkin karna pada bagian awal, yang lebih ditonjolkan adalah tentang teknis bagaimana sang ayah mencoba untuk tetap menjaga eksistensinya di dunia sang anak hingga mereka dewasa.
Setelahnya, pada bagian tengah buku, saya mulai tidak bisa melepaskan pandangan dari buku di hadapan saya. Pada setiap momen yang dilalui sang anak, di sana akan terasa betapa besar cinta sang ayah terhadap mereka. Bahkan hampir di setiap keputusan yang mereka buat, semuanya tidak terlepas dari campur tangan ayah yang telah meninggalkan mereka puluhan tahun lamanya. Bayangkan, sebesar apa cinta yang dimiliki sang ayah hingga beliau dapat tetap "menemani" pertumbuhan anaknya hingga dewasa, seolah-olah beliau masih hidup dan ada seperti ayah lainnya.

Jujur saja, saya sangat tersentuh melihat besar cinta yang diberikan sang ayah di dalam novel karya Adhitya Mulya ini. Yah, pada dasarnya, cinta ayah memang tidak bisa diukur. Pun dengan ibu. Semua orang tua pastilah menyayangi dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, cara yang dilakukan oleh ayahnya Cakra dan Satya ini, adalah salah satu cara yang bukan hanya berhasil menyentuh hati terdalam, tapi juga merupakan cara tercerdas untuk menyayangi. Meskipun harus menghadapi nasib untuk hidup tanya ayah, namun Cakra dan Satya tetap merasakan peran dan kehadiran sang ayah untuk membantu mereka tumbuh dewasa.

Selain pemilihan topik yang hebat, saya juga menyukai pemilihan kata-kata dan cara menyampaikan makna dari setiap kejadian yang dimaksud oleh penulis. Penyampaian kata-kata yang ringan dan mengalir, membuat saya tidak kesulitas memahami kejadian yang dimaksud, sehingga perasaan campur aduk yang terkandung di dalam novel akan dengan sangat mudah saya cerna dan turut mempengaruhi emosi saya saat itu juga.

Well, this books really deserves 5 out of 5 stars!




Senin, 23 Mei 2016 0 comments

JALAN-JALAN DI PULAU LOMBOK

Well, siapa sih yang nggak kenal pulau Lombok?
Lombok merupakan sebuah pulau kecil yang menjadi bagian dari provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasinya kira-kira bisa ditempuh dengan perjalanan laut selama 4 jam dari pulau Bali. 

Kebetulan (dan untungnya), my boyfriend is a real Lomboknese. Kita berdua sama-sama perantau yang ketemu di Jakarta. Perantau dari barat dan perantau dari timur, yang ketemu di tengah-tengah, hehehe. Thanks to Bakrie Foundation who gave me the full scholarship to study there so I could meet him! (I know, ini maksa.)

Nah, jadilah, pada tahun baru 2015 dan 2016 kemaren, saya diboyong untuk mengunjungi dan menikmati keindahan pulau seribu masjid ini. Kenapa dinamakan pualu seribu masjid? Ya, karna literally di pulau ini ada banyaaaaakk sekali masjid. Jadi tingkat kealiman masyarakatnya udah nggak perlu dipertanyakan lagi lah ya.

Kedua trip yang saya lakukan terasa sangat seru, tapi saya akan menceritakan perjalanan yang saya lakukan pada pergantian tahun 2016 saja, ya. Karena menurut saya trip pada saat itu jauh lebih bervariasi dan memorable, bukan cuma pantai dan pantai.

Day -1
Finally landed on Bandara Internasional Lombok! Sesaat sebelum mendarat, pemandangan yang breathtaking sudah mengalihkan perhatian saya dari hal apapun. Tapi, sayang, saya terlalu sibuk melihat-lihat sampai lupa mengabadikan pemandangannya :(

Menginjakkan kaki di bandara, kami berdua sudah ditunggu oleh keluarga pacar saya yang datang menjemput. Setelahnya, kami diajak untuk mampir ke sebuah rumah makan khas Lombok bernama Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Rumah makan Inaq Esun adalah pelopor nasi balap puyung di pulau Lombok. Nasi balap puyung adalah sebuah makanan khas Lombok yang rasanya sangat pedas dan gurih. Untuk seporsi nasi balap puyung, kamu bisa menikmati ayam petelor suir, kacang kedelai, kriuk kentang, dan telur merah. Buat yang nggak kuat pedas, mending jangan coba-coba deh. Saya saja baru bisa mulai menikmati makanan ini, padahal saya tergolong suka makanan pedas, LOL. Tapi buat yang suka pedas, nasi balap puyung adalah makanan wajib jib jib yang harus dicoba kala berkunjung ke Lombok. Pedasnya nagih banget!

courtesy of google

Day -2
Dalam rangka merayakan tahun baruan, saya dan keluarga pacar pergi untuk menginap di villa milik mereka, Rudi's Villa and Restaurant Sembalun (click the link for more info). Beberapa kamar di villa ini memiliki akses pemandangan langsung ke gunung Rinjani, which is so beautiful I can't even describe it with words.
The logo

Room with king sized bed

The Bathroom, along with hot water

Room with twin beds

Villanya kayak paviliun, jadi 1 orang penyewa owns a whole building :))

The front view
See the mount Rinjani out there? Yessssss, it was one of the most jaw dropping scenery I've ever seen. udah gitu, dinginnya gak ketulungan, cuy. Pagi hari disambut oleh kabut super tebal dan suasana yang begitu segar, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta. Overall, menginap di villa ini adalah paket lengkap dari definisi short escape dari kepenatan ibukota. (not merely a promotion, because I personally bewitched by it).

Day -3
Setelah menikmati pemandangan gunung Rinjani, kami beranjak menuju Gili Kondo, sebuah pulau kecil yang ditempuh menggunakan perahu selama kurang lebih 30 menit. Gili Kondo sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pulau-pulau lainnya. Namun bedanya, pulau ini masih tergolong perawan karena sangat jarang didatangi orang-orang. Di perjalanan menuju Gili Kondo menggunakan perahu, kami melewati Gili Lampu dan Gili Kapal. Gili Lampu adalah sebuah pulau kecil yang di atasnya terdapat sebuah mercusuar sebagai tanda penerang dan rambu-rambu bagi lalu lintas pelayaran di sekitarnya (so that's why dinamakan Gili Lampu, guys). Selain itu, pulau ini banyak sekali ditumbuhi oleh tumbuhan bakau. Setelahnya, kami melewati Gili Kapal, yang juga adalah pulau terkecil yang pernah saya injak seumur hidup saya. Bayangkan, pada saat sedang pasang, pulau ini akan sepenuhnya tenggelam loh. Beruntung hari sedang cerah dan laut sedang surut, sehingga kami bisa bermain sejenak di pulau tersebut.
On the smallest island i've ever visited

Our boat

Hmmm... some scene wouldn't hurt

The sea!

View from Gili Kapal

Snorkeling!

n g a m b a n g.

Melewati Gili Kapal

Day -4
Besoknya, kami pergi ke pemandian air terjun bernama Air Terjun Madu di wilayah Dusun Birak, ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih dua jam dari Sembalun. Untuk menuju ke air terjun tersebut dibutuhkan usaha ekstra. Karna, akses mobil menuju kesana terhenti pada sekitar 1 kilometer sebelum pemandian. Belum lagi medan terjal yang harus dilewati sebelum sampai kesana. Tapi, begitu sampai, lagi-lagi pemandangan super indah menyegarkan mata saya.





Day -5
Time to go back to Mataram!
Kulit saya mungkin sedikit menghitam, rambutpun semakin kering. Tapi, tidak ada sedetikpun dari perjalanan di Sembalun dan sekitarnya yang tidak saya nikmati. It's all worth it! :)


That's all for this post. Di postingan selanjutnya, saya akan menceritakan trip kami ke Gili Trawangan :)


Minggu, 22 Mei 2016 0 comments

REVIEW LULUR KOCOK RATU MAS

Saya, Nicky, sebenarnya dapat dikategorikan ke dalam perempuan yang (sangat) malas merawat tubuh. Bahkan ibu saya saja sering menegur dan menakut-nakuti kalau suatu saat saya akan seret jodoh karna saking malasnya melakukan body treatment. -_-

Nah, beberapa bulan belakangan ini, akhirnya pikiran saya mulai terbuka untuk benar-benar merawat tubuh dari luar dan dalam. Telat? Banget lah! Umur udah kepala 2, kok baru kenal sama yang namanya perawatan badan :( but nothing is too late, they said.

Berdasarkan rekomendasi dari ibu saya, dan melihat betapa bersih dan kinclongnya kulit beliau, akhirnya saya tertarik untuk mencoba sebuah lulur tradisional (yang notabene juga menjadi lulur favorit ibu saya), yaitu Lulur Kocok Ratu Mas. Lulur ini bisa didapat di pasar,  supermarket, atau drugstore dengan kisaran harga Rp 20.000 saja pemirsaaah :)


Di botolnya terdapat tulisan soap free, yang berarti di dalam lulur tidak terdapat kandungan sabun sama sekali. This is a good thing actually, karna menurut saya lulurnya jadi cepat kering dan gampang luruh dari tubuh. Botol lulur dilengkapi dengan tutup ulir yang kuat, sehingga aman dibawa kemana-mana.


Cairan lulur berwarna krem kekuningan, dengan tekstur cair dan banyak butiran scrub kecil-kecil di dalamnya. Tapi karna mulut botol yang besar, saya sering menumpahkan cairan lulurnya kebanyakan :( 

Pada saat dioleskan ke tangan, lulurnya akan cepat kering dan daki yang timbul biasanya akan banyak, hahahaha. Ajaib memang lulur ini.

Menurut saya, lulur kocok Ratu Mas sangat ampuh untuk membersihkan keseluruhan badan. Setiap selesai menggunakan lulur kocok ini, daki yang luruh biasanya berwarna abu-abu, which makes me really happy because it means the dirt has successfully gone. Yeay!

So after using it for quite a while, here's my thought about Lulur Kocok Ratu Mas:

Pros:
•Cepat kering dan tidak lengket.
•Banyak daki yang luruh setelah pemakaian.
•Tidak membuat kulit menjadi merah atau kesakitan.
•HARGANYA SANGAT TERJANGKAU! LOL.

Cons:
•Mulut botol yang lebar, sehingga penuangan cairan ke tangan jadi lebih risky.

That's my brief review about this product. Hope you can decide whether you want to buy it or not after this! :)
Minggu, 24 April 2016 0 comments

Segudang Manfaat Membaca Buku

Padang, somewhere between 1998-1999 (Nicky pada saat TK)\


"Mamah, aku tadi di sekolah diajarin baca sama bu guru. Abis ini mamah tolong beliin aku buku yang banyak ya."

"Oke, sayang."

Kira-kira begitulah obrolan singkat antara saya dan mama, sesaat setelah saya diperkenalkan kepada aktivitas membaca. Melihat bagaimana 26 buah huruf dapat disusun dan dirangkai satu dan lainnya sehingga membentuk sebuah kata penuh arti, adalah salah satu hal paling menarik di hidup saya sejauh itu (yang pengalamannya juga paling gak jauh-jauh dari manjat pohon ceri).

Sebagai seorang anak berumur 6 tahun, saking sukanya dengan kegiatan membaca, saya bisa benar-benar diam pada 1 posisi, berkutat dengan bacaan yang ada di hadapan saya, sembari berkontemplasi membayangkan bahwa cerita yang sedang saya baca benar-benar terjadi di dalam kepala saya. 

Tahun demi tahun, hobi membaca sangat jauh membantu saya dalam memperluas perspektif saya terhadap dunia. Well, we all know that this world is a pretty crazy stage for those who is (un)lucky enough to dive in it. Dari membaca, saya dapat lebih mudah memahami hal-hal yang terjadi di sekitar saya. Membaca, bisa dikatakan sebuah preparation atau persiapan dini terhadap kejadian-kejadian baru yang muncul tanpa bisa diekspektasikan sebelumnya. 

Nah, sebagai seorang anak yang tumbuh bersama jutaan kata yang menjadi sahabat saya, saya dulu beranggapan bahwa semua orang tumbuh seperti saya. Turns out I was wrong. Bahkan orang terdekat saya, adik saya sendiri, sangat jarang sekali menyentuh buku seumur hidupnya. 
Saya dan adik saya berjarak 3 tahun, yang bisa dibilang nggak jauh-jauh amat. Namun, hingga menginjak usianya yang ke 20 tahun ini, adik saya masih tidak memiliki ketertarikan terhadap buku. Seperti remaja pada umumnya, mayoritas waktu luang yang dia miliki dihabiskan untuk menatap layar smartphone, berinteraksi melalui dunia maya seputar hal-hal berbau pubertas remaja, atau kalau sedang merasa good looking, terciptalah selfie yang bikin memori hp jebol.

Kurang lebih, adik saya adalah refleksi nyata dari mayoritas remaja yang ada di Indonesia belakangan ini; hampir seluruh kegiatannya didominasi oleh smartphone mereka, entah itu dipakai untuk berkirim pesan dengan temannya, scrolling through every social media, selfie, atau apapun yang tidak mengandung makna "produktif" atau "ilmu baru" di dalamnya. Bayangkan apabila kegiatan (yang tidak produktif namun memakan waktu) tersebut digantikan dengan aktivitas membaca. Atau tidak usah dihilangkan lah, cukup dikurangi saya. Tentu saja apabila hal tersebut dilakukan rutin setiap harinya, para remaja tersebut akan mendapat bekal yang cukup untuk masa depannya.

Ingatlah, adik-adik. Waktu berjalan terus tanpa bisa diputar balik, tidak peduli seberapa kerasnya kalian berusaha. Hal apapun yang sedang kalian lakukan saat ini, akan menjadi pertanggungjawaban untuk hal yang kalian alami dalam sehari, seminggu, atau berpuluh tahun kemudian. So, there is no point on wasting your time. Bacalah sebanyak-banyaknya buku untuk mengisi waktu kalian, instead of fokus ke layar LCD dan menjadi masyarakat apatis tanpa rasa ingin tahu dalam dirimu. Bacalah buku apapun, baik itu novel, komik, biografi, atau bahkan buku resep masakan sekalipun. Percayalah, semakin banyak kosakata yang kau tahu dan pahami, semakin mudah dirimu untuk berbaur di lingkungan manapun kau berada. Semakin mudah berbaur, tingkat kepercayaan dirimu pun akan terbentuk dan kamu tidak akan dipandang sebagai seseorang yang "nggak nyambung", atau lebih parahnya lagi, membosankan.

Lagipula, membaca itu menyenangkan loh. Seperti yang dikutip Najwa Sihab, Duta Baca Indonesia untuk saat ini, kegiatan membaca merupakan unsur utama dalam khazanah kehidupan berbangsa. Bangsa tanpa tradisi literasi akan menjadi bangsa kelas teri yang senang memaki, mudah diprovokasi, dan minim imajinasi. Veeeeery well said! Dengan fakta bahwa Indonesia menempati posisi terendah dalam minat baca dari 50 negara Asia, bisa dilihat sendiri kan bagaimana kebiasaan orang Indonesia dalam kehidupan sosialnya. Ada artis yang melakukan sedikit kesalahan, ribuan hujatan akan menghampiri media sosial artis tersebut. Padahal kehidupan personal mereka tidak terusik sedikitpun, tapi entah kenapa orang-orang seperti ini semacam merasa memiliki "tanggung jawab" moral untuk ikut-ikutan menghakimi pihak yang melakukan kesalahan dengan nasihat yang tidak bisa dibilang "baik-baik" pula. Belum lagi sejak adanya Ask FM dengan situs anonymity nya, maka ramailah question box dengan pertanyaan sangat kasar (yang biasanya tidak akan berani mereka tanyakan secara langsung). Nah, generasi seperti inilah yang timbul, yang saya yakin salah satunya disebabkan oleh rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Generasi yang diharapkan akan meningkatkan derajat bangsa Indonesia di mata dunia, tetapi hingga sekarang masih heboh mengurus kehidupan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Cape, deh.


Intinya, tergelitik oleh rendahnya minat membaca masyarakat di Indonesia tercinta ini, saya berniat untuk menggencarkan kegiatan membaca di kalangan remaja. Saya tahu, itu sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Paradigma masyarakat terhadap membaca masih sangat kurang bagus, dimana banyak yang masih beranggapan bahwa membaca itu membosankan, atau tidak menarik sama sekali. Tapi saya akan tetap mencoba, sedikit demi sedikit, mengajak dan mengkampanyekan bahwa membaca itu menyenangkan, dan bahwa, membaca benar-benar merupakan jendela dunia.

Wish me luck :)
Selasa, 02 Februari 2016 0 comments

L words

It grows strong

It grows slowly

Never too late

Never too early

And once you're trapped in it

You can never be free

From the huge demand

Of getting it more and more

And that's what makes you greedy
 
;