Minggu, 31 Juli 2016 0 comments

Membedah buku Sidney Sheldon

Sidney Sheldon.

Nama ini sudah menemani hampir setengah perjalanan hidup saya yang biasa-biasa aja ini. Buat yang belum tau, Sidney Sheldon adalah seorang novelis terkenal, yang genre novelnya berkisar pada thriller fiction dan sedikit sentuhan romance.
Sepanjang mengingat masa-masa SMP saya, sedikit sekali kenangan yang dapat menyaingi momen menyenangkan membaca buku-buku Sidney Sheldon koleksi kakak saya (yes, thank God, she introduce me to those beautiful books).
Jujur, awalnya saya sedikit skeptis melihat buku yang menurut saya sangat tebal dan author yang tidak dikenal. Namun, kegabutan anak SMP kebanyakan mecin memaksa saya untuk penasaran dan mencoba membaca halaman pertama.

Hingga saya menemukan diri saya tidak mampu berhenti pada setiap kalimat-kalimat magis Sheldon di buku tersebut.

Buku pertama Sidney Sheldon yang saya baca berjudul "Master of the Game". Buku ini menceritakan tentang keluarga MacGregor/Blackwell dalam 6 keturunan, dimana masing-masing pihak memiliki andil yang membentuk keluarga tersebut saat ini. Adalah Kate Blackwell, seseorang yang dijuluki "ratu berlian", yang memiliki perusahaan multinasional raksasa dunia bernama Kruger-Brent Ltd.  Pada bab awal, diceritakan Kate sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 90 dengan keluarga dan temannya. Namun, instead of celebrating it, Kate merasa dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang mencoba menghancurkannya, dan yaking orang tersebut ada di ruangan yang sama dengannya. Kemudian cerita dilanjutkan dengan kisah-kisah terpisah dari berbagai anggota keluarga, maulun teman-teman yang terlibat.

Setiap cerita merupakan perjalanan yang mendebarkan, unik, dan memiliki porsinya masing-masing terhadap keluarga besar tersebut. Dimulai dari Jamie MacGregor, ayah kandung Kate, yang memulai hidupnya sebagai seorang Skotlandia yang miskin, dan kemudian memutuskan untuk mengarungi separuh dunia menuju Afrika Selatan, untuk mencari berlian.

Setiap bab akan menceritakan kisah-kisah yang berbeda, yang pada akhirnya akan menemukan benang merah dan menjadikan seluruh kisah menjadi satu kesatuan. Saya sangat terpukau melihat bagaimana Sidney Sheldon menyampaikan seluruh kejadian in an unecpected, and brilliant way. Setiap bab hampir pasti selalu diakhiri dengan sebuah statement yang either mengejutkan, tidak terduga, dan membuat penasaran. Disinilah, saya rasa, letak dari personal branding seorang Sidney Sheldon. Beliau mampu menyedot seluruh perhatian para pembaca terhadap buku di hadapan mereka, dan tanpa sadar sudah melewatkan 1 hari penuh tanpa melakukan apapun selain berkutat dengan bukunya. 

Sidney Sheldon is a masterpiece. 
For me, personally, he is a savior. He saved me from a boring and mediocre teenager life. He gave me a lot of insight and knowledge in a single book. And most importantly, he told me that if you're being a good person, good things won't always happen, but if you're being a bad person, then bad things will always follow.

Selanjutnya, saya menemukan diri saya untuk mencari dan membaca lebih banyak buku karya Sheldon. Bahkan sampai sekarang. 

Beberapa buku Sidney Sheldon yang sudah saya baca adalah:

1. Master of the Game (10/10)



Plot ceritanya sudah saya jelaskan diatas. What makes me give this books a perfect ten rating is because I see it more as an art rather than a book. Seni menyampaikan banyak sekali kisah dalam 1 buku, dan kembali merajut benang merah yang mempertemukan mereka semua, menurut saya sangat brilliant. I don't have any complaint at all.

2. If Tomorrow Comes (8/10)

Buku ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Tracy Whitney yang terjebak dalam kasus penipuan terhadap ibunya, yang kemudian menyebabkan ibunya bunuh diri akibat depresi. Gadis ini bertekad untuk membalaskan dendam ibunya, namun malah terjebak permainan mafia kelas kakap yang kemudian menjebloskannya ke penjara. Dari sana, dimulailah perjalanan Tracy dalam menyusun rencana balas dendam terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya. 

This book is awesome as it is. Lagi, penyampaian cerita ala Sidney Sheldon yang tidak terduga menghipnotis saya . Namun, tidak seperti biasanya, dalam buku ini Sheldon tidak menceritakan kisah tersebut dalam banyak angle. Tracy merupakan tokoh utama, dan hampir seluruh cerita dikisahkan dari sudut pandangnya. Sehingga, dibanding bukunya yang lain, menurut saya If Tomorrow Comes memiliki angle yang lebih sempit. Selain itu, alur cerita yang selalu maju dan memiliki ritme yang sama sedikit menjadikan buku tersebut agak membosankan. Well, but still, it is quite a masterpiece.

3. The Other Side of Midnight (9/10)

The Other Side of Midnight adalah salah satu buku Sidney Sheldon dengan skandal terbanyak yang pernah saya baca. Buku ini bercerira seputar harta kekayaan, perselingkuhan, pembalasan dendam, dan pembunuhan. Keberanian Sheldon dalam menyampaikan cerita-cerita tersebut dengan cara yang brilian dan tidak terduga kembali menghipnotis saya. What makes this novel get a 9 is just because it is not longer. Hahaha.

4. Bloodline (10/10)

Membaca buku ini sebenarnya mirip-mirip dengan menonton sinetron indonesia. Ceritanya tidak jauh-jauh dari perebutan harta kekayaan keluarga. Sam Roffe adalah pemilik tunggal perusahaan farmasi Roffee and Sons, yang kibaran sayapnya telah mencapai seluruh dunia. Namun secara mendadak, Sam Roffe meninggal akibat tergelincir pada saat snow diving. Sam meninggalkan satu-satunya anak perempuan yang baru beranjak dewasa, Elizabeth. Kisah cerita didominasi dengan perjuangan Elizabeth untuk mempertahankan perusahaan ayahnya dari para keluarga dan teman yang ingin merebutnya dengan cara-cara busuk mereka.

Well, this novel is a genious! Background yang standar tidak menjadikan novel ini serta merta standar dan kurang bisa dinikmati. Instead, Sheldon berhasil menyuguhi cerita-cerita hebat dan gila dalam ruang lingkup yang terbatas. I salute him for this.

5. The Naked Face (8.5/10)





Cerita mengenai percobaan pembunuhan yang menimpa beberapa pasien dari seorang psikiater ternama, Judd Steven. Setelah beberapa dari pasiennya meninggal dengan cara yang tidak wajar, Judd Steven merasa sang pembunuh mulai mengincar dirinya. Selanjutnya, adalah hari-hari yang dilewatkan untuk mencari siapa pelaku yang ada di balik semuanya.

Saya menyukai sebagian besar plot ceritanya, namun kurang menikmati dinamika cerita yang mayoritas diisi oleh ketegangan dan teror. Kurang adanya percikan romantisme atau sudut pandang lainnya membuat cerita ini agak timpang.

6. The Doomsday Conspiracy (10/10)


The Doomsday Conspiracy bercerita mengenai seorang investigator bernama Robert Bellamy yang disewa NSA untuk menyelidiki jatuhnya sebuah balon udara luar angkasa di Switzerland. Penyelidikan ini membawa Robert ke cerita sebenarnya, serta skandal yang terjadi di balik itu semua.

This book is awesomely unique! Saya sangat menyukai keseluruhan penyampaian, plot, genre, dinamika dan lainnya. It totally deserves a perfect ten.

7. The Stars Shine Down (8/10)

Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Lara Cameron, pemilik rangkaian perusahaan raksasa yang tersebar di berbagai benua. Lara Cameron berasal dari keluarga miskin, dengan ayah yang tidak pernah menyayanginya. Kemudian, dengan tekad bulat, Lara memutuskan untuk menaklukkan dunia melalui permainan bisnis yang biasanya didominasi oleh para laki-laki, yaitu bisnis properti. Perjalanan Lara Cameron dalam mengarungi dunia bisnis yang kejam, dibarengi dengan sedikit perjalanan romantisnya, dibalut dengan apik oleh seorang Sidney Sheldon.


Dari ketujuh buku Sidney Sheldon yang telah saya baca, Master of the Game is still the winner. Mungkin lebih karena itu buku pertama yang saya baca, dan bahkan meski sudah 9 tahun berlalu sejak saya membaca buku itu, hampir keseluruhan detail ceritanya belum ada yang saya bisa lupakan. 

Well done, sir.








0 comments

Ironi.

Terkadang, hidup adalah mengenai bertanya tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Apabila ada hal yang paling menyedihkan di dunia, salah satunya mungkin untuk tidak dapat memiliki hak untuk menikmati hal-hal sederhana, seperti makanan, keluarga inti, atau pakaian. 
Cerita nyata di bawah ini membuat saya melihat kehidupan dari sudut berbeda. Sudut yang gelap, dan memilukan. Cerita ini saya kutip dari jawaban seseorang bernama Zack Jaffri di website Quora.

(Translate-nya ada di bawah.)

"So here goes the story:
I was visiting a poverty stricken area in Mumbai suburb back in 2012. I was doing an independent study to assess the impact of poverty on kids. The area I was visiting was primarily Moslem dominated neighborhood. I was going house to house chatting with the families, their kith and kins. These people were REALLY poor barely making ends meet.
As I was walking the streets going door to door, I noticed a small , sad, cute looking girl (I’d say around 6 years of age) following me around without much clothing to protect her from cool and chilly Mumbai breeze. By the time I covered 10 houses, it was close to 2PM and I was ready to take a quick lunch break. It was here that I decided to intercept my “elusive” friend.
What happened next led me to question my own existence, who am I? why am I here? Why were we created?
Here is the conversation:
Me: what is your name? Where do you live? Why are you following me? Should I visit your house?
Girl: my parents call me Bulbul. I live six houses down the road.
She stopped talking at this point. I urged her to tell me her story. So I sat her on my lap, gave her a candy and urged her to continue her story.
She continues, “ I have a brother at home. He is 4 years old. Ten days ago, my dad passed away of starvation cuz he could not get enough food for all of us. It was enough for my mum, myself and my brother but not for him. He went without food for several days, living on water but making sure he fed us. After he died, we were left with no one to take care of us. However, upon hearing the news of the death of my father, several families from the neighborhood sent us food three times a day for a week and then the food STOPPED coming. (I guess, it is a culture, whether religious or non-religious, to bring food to the grieving family). Now we are back to our old situation, NO FOOD, and we are starving again with no food for the past 2 days.”
So at this point, I asked her, “So what will you or your family plan to do?”
Her reply shook me.
She said, “I am waiting for my brother to die so my mum and I can be fed by the neighbors. After that food is finished then I will die so the neighbors can bring food to feed my mom.” This is from a 6 year old."

TRANSLATE:

"Jadi begini ceritanya..
Saya sedang mengunjungi daerah yang dilanda kemiskinan di kawasan Mumbai pada tahun 2012. Saya sedang melakukan studi independen untuk menilai dampak dari kemiskinan terhadap anak-anak. Area yang saya kunjungi pada dasarnya didominasi oleh umat beragam islam. Saya mengunjungi setiap rumah dan berbincang dengan para keluarga dan kawan-kawannya. Para keluarga ini SANGATLAH miskin, mereka bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan inti.  
Sepanjang perjalanan mengunjungi rumah ke rumah, saya menyadari ada seorang gadis kecil lucu yang terlihat murung (sekitar 6 tahun) mengikuti saya berkeliling dengan pakaian seadanya yang tidak mampu melindunginya dari udara dingin Mumbai. Setelah mengunjungi 10 rumah, jam sudah mendekati pukul 2 siang dan saya bersiap untuk istrahat makan siang. Disinilah saya memutuskan untuk mencegat teman yang "sulit dimengerti" itu.
Apa yang terjadi setelahnya membawa saya pada pertanyaan mengenai keberadaan saya, siapa saya? Mengapa saya disini? Mengapa kita diciptakan?

Begini percakapannya:
Saya: siapa namamu? Kamu tinggal dimana? Kenapa kamu mengikutiku? Haruskah aku mengunjungi rumahmu?
Gadis kecil: orang tuaku memanggilku Bulbul. Aku tinggal di rumah ke-enam di bawah sana.

Dia berhenti bicara pada titik ini. Saya mendesaknya untuk menceritakan kisahnya. Jadi, saya mendudukkannya di pangkuan saya, memberinya sebuah permen, dan memintanya untuk melanjutkan kisahnya.

Dia melanjutkan. "Aku memiliki seorang adik laki-laki. Dia berumur 4 tahun. 10 hari yang lalu, ayahku mati kelaparan karna beliau tidak punya cukup makanan untuk kita semua. Makanan itu cukup untukku, ibuku, dan adikku tapi tidak untuknya. Dia tidak makan apapun selama beberapa hari, hanya minum air, dan memastikan kami semua masih bisa makan. Setelah dia meninggal, kami sendirian tanpa satu orangpun yang peduli pada kami. Namun, mendengar kabar kematian ayah, beberapa tetangga  mengirimi kami makanan 3 kali sehari selama seminggu, dan lalu makanan-makanan tersebut BERHENTI datang (saya rasa, ini semacam tradisi, beragama ataupun tidak, untuk membawa makanan kepada keluarga yang berduka). Sekarang kami kembali kepada situasi sebelumnya, TANPA MAKANAN, dan kami kembali kelaparan dan tidak makan apapun selama 2 hari ini.
Lalu, pada titik ini, saya bertanya, "Lalu apa yang kamu atau keluargamu akan lakukan?"

Jawabannya sangat mengejutkanku.

Gadis itu berkata, "Aku menunggu kematian adik laki-lakiku, agar aku dan ibu diberi makanan lagi oleh para tetangga. Setelah makanan itu habis, maka aku akan mati dan tetangga akan kembali memberi makanan untuk ibuku."
Kalimat seperti ini datang dari seorang anak berumur 6 tahun."

Well..... This cracks me to my bone. Bagaimana bisa, di belahan dunia lain ada manusia yang dapat makan apapun yang mereka mau, sementara di tempat lain, seseorang harus kehilangan keluarganya untuk bisa makan. Apakah hidup harus menjadi setimpang itu untuk beberapa orang yang "kurang beruntung"? Apakah ketimpangan seperti ini akan selalu ada hingga bumi mencapai titik akhirnya? 
 
;