"Mau jadi polisi, kayak papa! Biar keren."
7 tahun kemudian, tepat ketika memasuki bangku SMP, cita-cita saya berganti ingin menjadi pengusaha. Entah pengusaha apa, yang jelas terinspirasi dari buku-buku punya papa. 100 richest person in the world; jangan mau selamanya jadi orang gajian; kisah sukses orang terkaya di Indonesia. Emang dasarnya kutu buku, semuanya saya lahap. Dan semuanya mempengaruhi saya. Cuma, ya, namanya juga anak SMP kelebihan ingus, saya sendiri waktu itu hanya sekedar ingin, belum tau hal apa yang harus saya lakukan untuk mencapai itu. Boro-boro, nentuin SMA pilihan aja bingung. Intinya, saya sampe nulis di buku diary, "Pokoknya, kamu cuma boleh kerja di perusahaan orang maksimal 5 tahun Nicky! Abis itu, wajib bikin perusahaan sendiri."
Sejalannya waktu, menginjak kelas 3 SMP, saya menyadari kalau bakat yang saya miliki dari SD ternyata bisa menjadi option buat cita-cita saya nanti. Semenjak kelas 4 SD, saya suka sekali menggambar. Gambar tiruan sih. Seperti Detektif Conan, Doraemon, Bahkan gambar burung di cover kotak pensil warna Staedler. Kata teman-teman, gambar yg saya buat sangat mirip dengan aslinya. Hobi tersebut saya teruskan di bangku SMP. Saya berkolaborasi dengan sahabat saya untuk membuat sebuah komik, karena kebetulan memang kita sama-sama hobi menggambar dan tipe gambar kita bisa dibilang mirip. Bulet-bulet gimana gitu.
Long story short, kita merampungkan 3 naskah kasar komik, dan sempat beredar di sekolahan untuk dibaca orang-orang. Senengnya bukan main ketika tau ada orang lain yang menghargai karya saya.
Seketika, cita-cita saya berubah menjadi komikus handal. Seterkenal Ono Eriko, atau Aoyama Gosho.
Namun, maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tanganku buntung. Hanya gara-gara saya tidak memasuki SMA yang sama dengan si sahabat, mendadak semua cita-cita apik yang tersusun rapi tentang ingin menjadi komikus runtuh begitu saja. Saya menemukan hobi baru, yaitu menulis. Seringkali teman-teman memuji tulisan saya, katanya dalem.
"dalem kenapa?"
"kenapa ya? susah dimengerti soalnya." ............................... *nyari pecahan beling*
Cita-cita saya pun kembali meloncat, dari komikus ke penulis. Kebetulan dari zaman masih ada pecahan koin Rp. 25-, saya sudah hobi membaca. Bahkan mama tidak pernah bosan bercerita mengenai kebiasaan saya yang rewel mengaduk-aduk isi rumah orang-orang untuk menemukan sebuah bahan bacaan, baru diam. kecilnya aja nggak asik begitu, aduh.
Saya pun mencoba menulis draft novel. Entah kenapa, selalu gagal di pertengahan. Stuck, bahasa kerennya.
Sudah hampir setengah draft novel nanggung yang saya buat, dan terlantar begitu saja.
Dan akhirnya sekarang. Fakta bahwa saya berkuliah di fakultas ekonomi, tak memungkiri bahwa (harusnya) cita-cita saya juga tak jauh dari sana. Yap, you guess right. Cita-cita saya berubah lagi, kembali ingin menjadi pengusaha. Dan jujur saja, belum tau mau jadi pengusaha di bidang apa.
Pengusaha makanan? Tekstil? Bahan bangunan? Bahan tambang? Fashion?
Buat sementara ini, kalo ada yang nanya saya mau jadi pengusaha apa, jawabannya masih "Apa aja lah ya. Paling ga jauh-jauh dari hobi sekarang."
Sedih sih, semacam orang putus asa yang masa depannya sebenernya gak jauh-jauh dari gaji bulanan dan tunggakan listrik.
naudzubillahiminzaliik.
Sekarang sih, saya sebenarnya sudah merasa cukup aman, karna sudah punya path sendiri untuk menjalani hidup kedepannya. Hidup, menurut saya gak perlu dibawa terlalu serius. Santai kaya di pantai, selow kaya di pulau. Tapi ya jangan ngaco juga. You gotta put some goals there. Selama punya tujuan, dan jalur, ya sebenernya tinggal di manusianya aja. Udah siap jalan apa belom? Toh kalo udah, tinggal ngikutin jalur.
Tantangan pasti bakal ada. Di tengah jalan, bisa aja ada "badai" yang bikin harus istirahat sejenak atau cari jalan lain. Cari jalan lain ya buat tetep sampe ke tujuannya toh? Kalo dari awal tujuannya aja gak jelas, badai kecil aja bisa bikin "jalan alternatif" yang saya ambil tadi mengubah destinasi saya loh. Udah terbukti lah sejak saya berumur 5 tahun. Gak jelas juntrungan, gak tau mau ngapain.
Sekarang anaknya lagi berusaha memperkuat goals dan mempersiapkan diri menghadang badai yang pasti akan menghadang.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact