Kamis, 21 Agustus 2014 0 comments

PhiloCoffee Journey starts here

13 Agustus 2014.

"Aku punya sebuah ide yang cukup gila." Katamu, malam itu.
"Bagaimana kalau kita memulai sebuah bisnis bersama-sama? Usaha coffee shop yang sedang kujalani bersama ayah di Lombok, ingin kulakukan juga disini. Bedanya, bersamamu."

Aku terdiam cukup lama. Hei, ini bukan main-main. Memulai sebuah bisnis bersama. Kedengaran menantang sekaligus menyenangkan memang, tapi apa hanya itu? Perlu sesuatu yang lebih dari sekedar passion untuk menjalaninya.
Apakah kita berdua sudah sekuat itu untuk bersama-sama berpegangan tangan, seerat mungkin, melawan arus naik turun bisnis yang pasti terjadi nanti? Ayolah, tak perlu badan intelijen khusus untuk menghitung bahwa hubungan kita masih seumur jagung.

Sebelum kuutarakan pikiranku, katamu begini.
"Mungkin kamu sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dengan kita dan bisnis ini. Seperti, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kita di tengah jalan, katakanlah, putus, bisnis ini mau diapakan?
Aku, saat ini, berusaha keras dan bahkan tak mau sama sekali untuk memikirkan kemungkinan tersebut. Mungkin terdengar berlebihan, tapi aku memang sudah menganggap 'kita' seserius itu. Aku masih mengingat jelas kesepakatan kita untuk maju bersama di awal jadian. Dan yah, mungkin ini adalah permulaannya. Bukannya aku memungkiri untuk adanya kemungkinan-kemungkinan terburuk tersebut. Tapi toh, kalaupun itu terjadi, memang apa salahnya kalau momen ini pernah ada?"

Kurasa, rona di pipiku saat itu mengalahkan buah tomat yang segar dan ranum di kebun raya sana. Aku malu karna bisa-bisanya dalam hatiku, aku memikirkan kemungkinan terburuk tersebut sementara kamu menghimpitnya dengan pikiran positif. Aku malu, karna sempat-sempatnya aku meragukanmu.

"Hmmm... baiklah. Aku setuju. Mari maju bersama-sama."
"Deal."

Berapa banyak diantara kalian, yang di dalam hubungan berumur 2 bulan, sudah mengalami apa yang baru kualami?
Aku tak bilang bahwa hubungan ini menjanjikan, atau sudah pasti bahagia. Aku hanya bisa mengatakan,bahwa  hubungan ini berani, dan tak takut rintangan.

Kamu juga bahkan bukan lelaki yang penuh dengan janji. Kamu adalah seseorang yang datang, mendengarkanku bersama setiap keluhan, dan datang bersama solusi berikut tantangan. Tentu saja, aku sangat menghargai itu.

Mari berdoa bersama-sama demi kebaikan dan kesuksesan kita berdua. Perjalanan PhiloCoffee baru akan dimulai sekarang :)

Kamis, 14 Agustus 2014 0 comments

Teruntuk yang termencengangkan

Bagi seseorang yang gemar menulis, biasanya akan sangat mudah menemukan barisan kata dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat yang menggambarkan perasaannya. Bahkan mungkin, saking mudahnya, terkadang kesan yang muncul pada tulisan bisa lebih dalam daripada keadaan sebenarnya.

Entahlah kenapa, tapi kali ini aku merasa sulit menemukan susunan kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang terjadi saat ini.

Mungkin karna lelaki yang baru kukenal dekat 2 bulan belakangan ini adalah sebuah pengecualian.

Jujur saja dulu, aku mengenalnya sebagai orang yang sama sekali jauh dari "future oriented". Yaaaah, teman-teman, dan bahkan diriku sendiri, mengakui bahwa aku gadis yang kerap menilai seorang pria dari orientasinya terhadap masa depan. Lelaki ini, dari luar,, adalah orang yang bisa dibilang banyakan ketawa dibanding seriusnya. Hmmmm...

Ternyata aku sedikit salah. Iya, dia memang lebih banyak bercanda dibanding serius. Dia lebih sering tertawa pada kondisi yang bahkan sebenarnya sulit. Salahku adalah saat mengira dia tak berorientasi pada masa depan. Lelaki ini, jauh diluar penampilannya, telah melihat ke suatu titik yang bahkan jauh dibanding diriku sendiri untuk beberapa aspek.

Hai, pria yang penuh kejutan. Sekalipun diam-diam aku mengharapkanmu untuk melepas 3 buah anting yang bertengger di telingamu suatu hari nanti, sesungguhnya mereka memang membuatmu terlihat keren. Hmmm, tapi tetap, aku masih menunggu kupingmu bebas dari tusukan-tusukan kejam itu :p

Hai pria yang begitu penuh kejutan. Hubungan kita yang masih seumur jagung ini sebenarnya belum pantas untuk dijadikan inspirasiku dalam menulis blog. Tapi seperti yang sering kita bahas secara tiba-tiba, hubungan kita memang bukan hubungan biasa. Sesuatu telah membuat hubungan berumur 2 bulan ini terasa berbeda dan istimewa. Sesuatu yang tak bisa kutemukan jawabannya.

Hai pria yang penuh dengan kejutan. Aku adalah seorang gadis yang berpikiran rumit dengan segala cerita rumit di hidupnya. Prestasimu adalah dapat membuatku begitu terbuka dengan segala cerita hidup yang kupunya, hanya dalam waktu sesingkat ini. Prestasi kedua, adalah menerima mereka semua tanpa ragu.

Hai lelaki yang selalu penuh dengan kejutan. Kamu bukan sosok yang sempurna, begitupun aku. Istimewanya, tak pernah terpikirkan bagi kita berdua untuk mengubah atau bahkan mengutarakan kebaratan atas kekurangan satu sama lain. Hobiku memakai sandal jepit kemana-mana, tak menjadikanmu malu menggandeng tanganku di mal :p

Hai lelaki, yang tak pernah berhenti mengejutkanku. Jalan yang sedang kita lalui saat ini, masih biasa-biasa saja. Mendebarkan, selalu, tetapi masih biasa saja. Ku tahu pasti, suatu hari nanti kita akan menghadapi yang jauh lebih sulit daripada ini. Dan tebak, aku sama sekali tak merasa takut pada mereka. Keberadaanmu sudah cukup hebat untuk membuatku yakin bahwa kita mampu melewati mereka semua.

Dan terakhir, teruntuk lelaki yang tak pernah absen menawarkanku kejutan. Aku tak pernah mampu untuk Mengekpresikan perasaanku secara verbal. Kuharap, tulisan sederhana dan singkat ini dapat mewakili apa yang kurasakan saat ini. Mungkin bisa dibilang kita jauh dari istilah romantis. Bahkan untuk ukuran hubungan sesingkat ini, aku sudah merasa tidak lagi ketergantungan pada lip gloss dan bedak untuk membuatku selalu terlihat segar dimatamu. Kamu, entah dengan cara apa, berhasil membuatku merasa bahwa aku yang biasa-biasa saja ini, adalah wanita yang cantik, tanpa harus menggunakan sekumpulan alat alat kecantikan kimiawi.

Masa depan masihlah sebuah misteri tak terjawab bagiku. Semuanya masih terasa hitam, dengan aku yang saat ini masih merajut cerita demi cerita untuk membuatnya menjadi bercahaya dan berwarna. Dan detik ini, aku bersyukur, bahwa salah satu warna benang rajut terindah yang sedang kujahit, adalah warnamu.

Mimpiku masih tetap ada, begitupun mimpimu. Menyatukan mereka, katamu? Ayo kita coba :)


Omong-omong, selamat 2 bulanan!
Konyol, dalam waktu sesingkat ini aku merasa sudah seperti mengenalmu bertahun-tahun lamanya.
Tak sabar menunggu cerita mendebarkan lainnya setelah ini :)
 
;