13 Agustus 2014.
"Aku punya sebuah ide yang cukup gila." Katamu, malam itu.
"Bagaimana kalau kita memulai sebuah bisnis bersama-sama? Usaha coffee shop yang sedang kujalani bersama ayah di Lombok, ingin kulakukan juga disini. Bedanya, bersamamu."
Aku terdiam cukup lama. Hei, ini bukan main-main. Memulai sebuah bisnis bersama. Kedengaran menantang sekaligus menyenangkan memang, tapi apa hanya itu? Perlu sesuatu yang lebih dari sekedar passion untuk menjalaninya.
Apakah kita berdua sudah sekuat itu untuk bersama-sama berpegangan tangan, seerat mungkin, melawan arus naik turun bisnis yang pasti terjadi nanti? Ayolah, tak perlu badan intelijen khusus untuk menghitung bahwa hubungan kita masih seumur jagung.
Sebelum kuutarakan pikiranku, katamu begini.
"Mungkin kamu sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dengan kita dan bisnis ini. Seperti, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kita di tengah jalan, katakanlah, putus, bisnis ini mau diapakan?
Aku, saat ini, berusaha keras dan bahkan tak mau sama sekali untuk memikirkan kemungkinan tersebut. Mungkin terdengar berlebihan, tapi aku memang sudah menganggap 'kita' seserius itu. Aku masih mengingat jelas kesepakatan kita untuk maju bersama di awal jadian. Dan yah, mungkin ini adalah permulaannya. Bukannya aku memungkiri untuk adanya kemungkinan-kemungkinan terburuk tersebut. Tapi toh, kalaupun itu terjadi, memang apa salahnya kalau momen ini pernah ada?"
Kurasa, rona di pipiku saat itu mengalahkan buah tomat yang segar dan ranum di kebun raya sana. Aku malu karna bisa-bisanya dalam hatiku, aku memikirkan kemungkinan terburuk tersebut sementara kamu menghimpitnya dengan pikiran positif. Aku malu, karna sempat-sempatnya aku meragukanmu.
"Hmmm... baiklah. Aku setuju. Mari maju bersama-sama."
"Deal."
Berapa banyak diantara kalian, yang di dalam hubungan berumur 2 bulan, sudah mengalami apa yang baru kualami?
Aku tak bilang bahwa hubungan ini menjanjikan, atau sudah pasti bahagia. Aku hanya bisa mengatakan,bahwa hubungan ini berani, dan tak takut rintangan.
Kamu juga bahkan bukan lelaki yang penuh dengan janji. Kamu adalah seseorang yang datang, mendengarkanku bersama setiap keluhan, dan datang bersama solusi berikut tantangan. Tentu saja, aku sangat menghargai itu.
Mari berdoa bersama-sama demi kebaikan dan kesuksesan kita berdua. Perjalanan PhiloCoffee baru akan dimulai sekarang :)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact