Entah kenapa harus di Ramadhan tahun ini, bukan tahun kemaren. Mungkin Tuhan sedang mengirim kode bahwa saya memang bertambah dewasa tahun ini, sehingga lebih aware akan banyak hal.
Hal apa sih?
Ada beberapa hal yang saya, dan pastinya banyak makhluk remaja nanggung lain, tunggu-tunggu dari bulan Ramadhan: Ajang kumpul bareng keluarga; THR; dan buka bareng temen-temen.
Nah omong-omong soal buka bareng temen, saya tentunya sangat excited, karna nasib kampus yang jauh di luar kota sana yang menyebabkan saya jarang ketemu sama teman-teman tercinta.
Untuk bulan puasa tahun ini, jadwal bukber saya yang pertama adalah bersama teman-teman SMA seangkatan. Happy much? yes. Saya pulang-pulang radang tenggorokan saking semangatnya bernostalgia sama temen-temen lama.
left to right: Hesty, Suri, Me, Laras
Disini asal muasal postingan ini tercipta. Muehehehehehe.
Banyak hal yang saya perhatikan di detik-detik bukber saat itu. Saya termasuk yang pertama kali hinggap di lokasi berbuka puasa, sehingga punya banyak waktu untuk observasi. Semacam sok pintar.
Begitu melihat teman-teman SMA saya, secara reflek saya selalu membandingkan mereka versi SMA dengan mereka yang sekarang.
Ada seorang teman yang bandelnya gak ada obat sewaktu SMA, berubah menjadi laki-laki bijak yang independen. Pun teman yang tadinya diam tak terlihat di pojokan pagar mushola SMA, sekarang berkibar kaya bintang rockstar.
Namun 1 hal yang saya sangat sadari dari pandangan general terhadap angkatan saya; masyarakatnya masih aja terkotak-kotak.
Gak dipungkiri sih, banyak orang yang bilang kalau SMA saya terkenal mengkotak-kotakkan pergaulan. Yang gaul gabungnya ya sama yang sesama gaul, kalo nyasar di tumpukan anak cupu, si gaul mendadak gagu. Begitulah sebaliknya.
Yang tajir juga, bakalan enggan temenan sama orang yang duit orangtuanya nggak sebanyak duit orangtua mereka. Malah biasanya, yang ekonominya biasa-biasa aja suka dijadiin bahan ceng-cengan.
Harusnya sih itu hal biasa dimana aja. Wong dikampus saya juga banyak yang tajir melintir, gaul kemana-mana pula. Tapi ya itu tadi, disini, di SMA saya, nyaris haram hukumnya pergaulan antar kasta yang berbeda.
Dengan begitu, saya kembali meneruskan observasi saya ke jenjang lebih spesifik.
Jujur, saya merasa jauh berubah semenjak SMA. Saya yang sekarang tentunya lebih (sedikit) (sedikit banget) (seuprit) dewasa dibanding saya yang dulu. Itu hal yang wajar bukan? Tapi kok ya teman-temen yang saya temui di acara bukber itu masih ada, bahkan banyak, yang gak maju-maju dari jaman jahiliyah itu?
Beberapa bahkan sifatnya masih sama persis, gak dewasa dan semena-mena.
Entah, saya gak akan mau nge-judge lebih dalam. Yang jelas, saya tiba-tiba saja merasa bersyukur memilih berkuliah diluar kota. Kalo aja saya masih stuck di kota ini, mungkin saya yang sekarang gak ada bedanya sama yang dulu. Masih childish, petakilan, wawasannya sempit, ngaco, berantakan, masa depan suram, dan semacamnya.
Tanpa takdir kuliah di luar kota, sulit bagi saya menemukan jawaban akan cara pendewasaan diri di kota ini.
I'm so relieved with who I am now :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar