Halo, Mama.
Mungkin Mama tidak akan membaca tulisanku yang kumuat disini. Mama bukan remaja yang luwes akan dunia teknologi. Bagimu, memahami cara mengirim voice note melalui BBM saja butuh waktu yang sangat lama :p
Tapi, begitulah Mama. Keluguanmu akan gemerlap teknologi zaman sekaranglah yang menjadi salah satu alasanku untuk mencairkan suasana ketika didekatmu.
Mama, aku kagum sekali akan Mama. Mama bukanlah wanita sempurna, bukan juga orang yang luput dari kesalahan, tetapi Mama kuat. Mama jauh lebih kuat dari kebanyakan wanita-wanita yang kulihat diluar sana.
Kehidupan yang Mama jalani tidak pernah mudah. Mama dihujani cobaan demi cobaan sejak muda. Cobaan yang, apabila itu aku yang mengalaminya, mungkin aku akan berpikir untuk mengakhiri saja hidup di dunia ini.
Tetapi Mama bertahan.
Kenapa?
Karna aku dan saudaraku. Mama bertahan karna kami, karna Mama ingin melihat kami tumbuh dewasa, karna Mama tak begitu saja percaya pada tangan orang lain untuk menghidupkan kita. Karna Mama sadar, hanya Mama lah satu-satunya ibu yang kami miliki di dunia.
Mama bangkit dari keterpurukan itu. Berusaha melupakan segala kesakitan, dan ikut tersenyum bersama senyum lugu kami yang belum tahu apa-apa saat itu.
Setelah aku cukup dewasa Ma, setelah umurku cukup matang untuk mengetahui segala ceritamu, Mama menceritakan segalanya padaku.
Cerita yang membuatku menangis hebat, menyadari betapa menyedihkannya kisah yang Mama alami di masa lalu.
Tetapi apakah Mama menangis ketika menceritakan itu dihadapanku?
Mama menceritakan segalanya dengan lantang, tanpa terlihat sedih.
Masih jernih, Ma, dalam ingatanku, bahwa hanya ada satu hal yang membuat Meneteskan air mata. Mama sesenggukan ketika menceritakan kembali hal yang menimpaku pada saat aku TK.
Sekolahku merayakan ulang tahunku dan teman-teman yang juga berulang tahun di bulan Oktober. Semua teman-temanku ditemani oleh orang tuanya, sementara aku tidak. Tentu saja ada alasannya.
Mama menangis dan memelukku, Mama bilang tidak ada hal yang lebih menyayat hati Mama dibanding mengingat pada saat aku berulang tahun sendirian di TK.
Ma, aku bahkan tidak mengingat lagi momen itu. Kenapa Mama menangis? Bukankah masalah yang Mama alami jauh lebih berat daripada itu?
Sebegitu berartinyakah kebahagiaanku di mata Mama?
Ma, hidup yang kita jalani selama ini mungkin tidak bisa dibilang mulus-mulus saja. Banyak suka duka yang kualami bersama Mama. Banyak tawa dan airmata yang menemani saat saat kita bersama. Banyak mimpi yang kucurahkan ke hadapan mama.
"Nanti pokoknya cici mau bikinin Mama rumah yang buesaaaar! Warnanya coklat keemasan kayak warna kesukaan Mama."
"Nanti kalo udah punya uang banyak, cici mau naik haji sama Mama. Kita liat ka'bah bareng ya, Ma!"
"Nanti calon suami cici harus bisa dekat sama Mama dulu. Kalo dia gak hormat sama Mama, bye!"
Mama adalah single fighter. Mama adalah malaikat tanpa sayap yang membuatku menjadi seperti sekarang.
Mama memberiku pelajaran yang guru manapun tidak akan pernah bisa beri.
Pelajaran itu bernama Cinta. Cinta Mama yang tidak terbendung terhadapku menjadi penguatku disaat aku lemah, obat bagiku disaat sakit, dan pencerahku saat aku dirundung kegelapan.
Ma, saat ini aku belum bisa memberikan apapun untukmu. Aku masih anak ingusan yang kadang tidak memikirkan perasaanmu. Aku masih sering sekali mengecewakanmu. Bahkan aku masih sering sekali hanya memikirkan perasaanku.
Tetapi Ma, ketahuilah bahwa anakmu ini menyimpan rasa terima kasih yang sangat dalam atas cinta berlimpah yang tak pernah henti kau hujankan padanya.
Ketahuilah bahwa, sekalipun aku tanpa sadar sering mengecewakanmu, kebahagiaanmu adalah alasan nomor satuku untuk tetap berdiri tegap menghadapi dunia. Aku ingin membahagiakanmu, Ma. Aku sangat ingin membahagiakanmu.
Aku ingin melihat senyum indah Mama karna usaha yang kukerahkan.
Aku ingin membangun rumah berisi kebahagiaan yang mengelilingi kita.
Aku sayang Mama.
Selamat hari ibu, Ma :)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact