Cerita nyata di bawah ini membuat saya melihat kehidupan dari sudut berbeda. Sudut yang gelap, dan memilukan. Cerita ini saya kutip dari jawaban seseorang bernama Zack Jaffri di website Quora.
(Translate-nya ada di bawah.)
"So here goes the story:
I was visiting a poverty stricken area in Mumbai suburb back in 2012. I was doing an independent study to assess the impact of poverty on kids. The area I was visiting was primarily Moslem dominated neighborhood. I was going house to house chatting with the families, their kith and kins. These people were REALLY poor barely making ends meet.
As I was walking the streets going door to door, I noticed a small , sad, cute looking girl (I’d say around 6 years of age) following me around without much clothing to protect her from cool and chilly Mumbai breeze. By the time I covered 10 houses, it was close to 2PM and I was ready to take a quick lunch break. It was here that I decided to intercept my “elusive” friend.
What happened next led me to question my own existence, who am I? why am I here? Why were we created?
Here is the conversation:
Me: what is your name? Where do you live? Why are you following me? Should I visit your house?
Girl: my parents call me Bulbul. I live six houses down the road.
She stopped talking at this point. I urged her to tell me her story. So I sat her on my lap, gave her a candy and urged her to continue her story.
She continues, “ I have a brother at home. He is 4 years old. Ten days ago, my dad passed away of starvation cuz he could not get enough food for all of us. It was enough for my mum, myself and my brother but not for him. He went without food for several days, living on water but making sure he fed us. After he died, we were left with no one to take care of us. However, upon hearing the news of the death of my father, several families from the neighborhood sent us food three times a day for a week and then the food STOPPED coming. (I guess, it is a culture, whether religious or non-religious, to bring food to the grieving family). Now we are back to our old situation, NO FOOD, and we are starving again with no food for the past 2 days.”
So at this point, I asked her, “So what will you or your family plan to do?”
Her reply shook me.
She said, “I am waiting for my brother to die so my mum and I can be fed by the neighbors. After that food is finished then I will die so the neighbors can bring food to feed my mom.” This is from a 6 year old."
TRANSLATE:
"Jadi begini ceritanya..
Saya sedang mengunjungi daerah yang dilanda kemiskinan di kawasan Mumbai pada tahun 2012. Saya sedang melakukan studi independen untuk menilai dampak dari kemiskinan terhadap anak-anak. Area yang saya kunjungi pada dasarnya didominasi oleh umat beragam islam. Saya mengunjungi setiap rumah dan berbincang dengan para keluarga dan kawan-kawannya. Para keluarga ini SANGATLAH miskin, mereka bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan inti.
Sepanjang perjalanan mengunjungi rumah ke rumah, saya menyadari ada seorang gadis kecil lucu yang terlihat murung (sekitar 6 tahun) mengikuti saya berkeliling dengan pakaian seadanya yang tidak mampu melindunginya dari udara dingin Mumbai. Setelah mengunjungi 10 rumah, jam sudah mendekati pukul 2 siang dan saya bersiap untuk istrahat makan siang. Disinilah saya memutuskan untuk mencegat teman yang "sulit dimengerti" itu.
Apa yang terjadi setelahnya membawa saya pada pertanyaan mengenai keberadaan saya, siapa saya? Mengapa saya disini? Mengapa kita diciptakan?
Begini percakapannya:
Saya: siapa namamu? Kamu tinggal dimana? Kenapa kamu mengikutiku? Haruskah aku mengunjungi rumahmu?
Gadis kecil: orang tuaku memanggilku Bulbul. Aku tinggal di rumah ke-enam di bawah sana.
Dia berhenti bicara pada titik ini. Saya mendesaknya untuk menceritakan kisahnya. Jadi, saya mendudukkannya di pangkuan saya, memberinya sebuah permen, dan memintanya untuk melanjutkan kisahnya.
Dia melanjutkan. "Aku memiliki seorang adik laki-laki. Dia berumur 4 tahun. 10 hari yang lalu, ayahku mati kelaparan karna beliau tidak punya cukup makanan untuk kita semua. Makanan itu cukup untukku, ibuku, dan adikku tapi tidak untuknya. Dia tidak makan apapun selama beberapa hari, hanya minum air, dan memastikan kami semua masih bisa makan. Setelah dia meninggal, kami sendirian tanpa satu orangpun yang peduli pada kami. Namun, mendengar kabar kematian ayah, beberapa tetangga mengirimi kami makanan 3 kali sehari selama seminggu, dan lalu makanan-makanan tersebut BERHENTI datang (saya rasa, ini semacam tradisi, beragama ataupun tidak, untuk membawa makanan kepada keluarga yang berduka). Sekarang kami kembali kepada situasi sebelumnya, TANPA MAKANAN, dan kami kembali kelaparan dan tidak makan apapun selama 2 hari ini.
Lalu, pada titik ini, saya bertanya, "Lalu apa yang kamu atau keluargamu akan lakukan?"
Jawabannya sangat mengejutkanku.
Gadis itu berkata, "Aku menunggu kematian adik laki-lakiku, agar aku dan ibu diberi makanan lagi oleh para tetangga. Setelah makanan itu habis, maka aku akan mati dan tetangga akan kembali memberi makanan untuk ibuku."
Kalimat seperti ini datang dari seorang anak berumur 6 tahun."
Well..... This cracks me to my bone. Bagaimana bisa, di belahan dunia lain ada manusia yang dapat makan apapun yang mereka mau, sementara di tempat lain, seseorang harus kehilangan keluarganya untuk bisa makan. Apakah hidup harus menjadi setimpang itu untuk beberapa orang yang "kurang beruntung"? Apakah ketimpangan seperti ini akan selalu ada hingga bumi mencapai titik akhirnya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar