Teruntuk mama yang kusayangi, selamat hari ibu.
Terima kasih telah menjadi mama untuk cici, dedek, ami, bang nando, dan bang willy. Banyak hal telah mama lalui demi kami.
Cici tau, mama bukan gambaran ibu sempurna yang diceritakan di kisah-kisah terkenal, mama juga bukan ibu yang bisa segalanya. Mama, hanyalah manusia biasa.
Mama hanya wanita biasa yang menyayangi anaknya dengan cara mama sendiri. Mama selalu yakin bahwa anak mama harusnya bisa lebih hebat daripada anak lainnya. Mama begitu jauh dari sosok ibu yang memanjakan anaknya. Bagi mama, kemandirian harus dipupuk sejak dini. Makanya sekarang cici tidak gentar sama sekali menghadapi kehidupan di kota ini sendirian, ma. Mama tidak pernah ingin cici hidup bergantung pada orang lain, sehingga mama mengajarkan cici untuk bersosialisasi dengan baik. Mama tidak ingin cici boros, sehingga mama hanya membelikan cici benda yang benar-benar cici butuhkan. Mama tidak ingin cici direndahkan oleh lelaki, sehingga mama kekeuh cici harus kuliah dan bekerja, tidak bergantung pada suami. Mama tidak ingin cici melupakan satupun nasihat mama, sehingga mama kadang terkesan cerewet.
Kadang cici merasa tidak senang dengan suruhan-suruhan mama pada saat cici sedang sibuk dengan urusan cici sendiri.
Kadang cici kesal pada saat mama meminta tolong cici untuk melakukan hal yang tidak cici suka.
Kadang cici masih sebel dalam hati, sama mama.
Maafin cici ya, ma.
Ketahuilah ma.
Bahwa dibalik itu semua, cici begitu takut kehilangan mama. Cici begitu takut melihat kerutan di wajah mama yang semakin kentara, pertanda mama sudah semakin tua.
Bahwa di balik itu semua, motivasi terbesar bagi cici untuk terus maju adalah demi melihat mama bangga. Demi mendengar mama membanggakan cici ke semua orang.
Bahwa di balik semua itu, selalu ada sebuah doa yang terselip, agar mama selalu diberikan kesehatan tanpa henti, dan agar dosa-dosa mama diampuni oleh-Nya.
Saat ini, ma, cici belum bisa menjanjikan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, cici saat ini sedang berlari untuk mengejar sebuah titik yang mama banggakan. Cici sedang berjuang untuk itu, ma. Agar air mata serta keringat yang pernah mama curahkan tidak sia-sia.
Maafkan cici yang masih jauh dari istilah anak berbakti, ma. Terkadang cici masih mementingkan hal lain dibanding mama, tanpa cici sadar bahwa saat itu mama sedang sangat membutuhkan cici.
Terima kasih atas 21 tahun perjuangan mama dalam membentuk cici menjadi seperti sekarang. Cici, sebagai anak, mungkin hanya akan sanggup membalas sedikit nanti. Tetap sehat ya, ma. Jangan mengeluh kakinya keram lagi. Karna dibalik diamnya cici, sebenarnya cici gak pernah sanggup mendengarnya, ma.
Cici sayang mama ❤️

Tidak ada komentar:
Posting Komentar